posmetrobatam.co.id | Zaman digital kini menghadirkan wajah baru bagi kebaikan. Kalau dulu amal baik disimpan diam-diam, sekarang justru berlomba ditayangkan di Media Sosial. Celoteh satir ini datang dari Ongah Kantan, tokoh rekaan yang suka nyeletuk tajam tapi santai, dalam rubrik mingguan “Ongah Kantan Nyeletuk.”
“Diduga tak mau repot malaikat pencatat amal, beberapa orang catat sendiri di medsos,” seloroh Ongah sambil menyeruput kopi paginya.
Ongah Kantan bilang, kebaikan zaman sekarang sudah pindah alamat bukan lagi di hati, tapi di feed Instagram.
Banyak orang berlomba jadi “malaikat digital.” Ada yang merekam saat memberi sedekah, membantu nenek tua di jalan, atau menyalurkan bantuan dengan kamera yang disiapkan dari angle paling syahdu.
“Sampai Ongah bingung, ini bantu orang atau bikin iklan shampoo hati?” celetuknya lagi.
Satu contoh kecil diceritakan Ongah lewat kisah Lena, seorang influencer dengan ribuan pengikut.
Suatu sore, Lena melihat seorang ibu penjual kue kesulitan mendorong gerobak. Bukannya langsung menolong, Lena malah meminta temannya merekam aksi bantuannya dengan cahaya dan sudut terbaik.
Lima menit kemudian, video itu sudah tayang di Instagram Story lengkap dengan musik sedih dan caption manis:
“Sedikit rezeki untuk Ibu Hebat” #BerbagiItuIndah #BeKind.
Yang terbantu memang si ibu. Tapi, kata Ongah, yang paling naik derajat justru si Lena di mata algoritma.
Ongah menilai, kini kebaikan sering berubah jadi tontonan.
“Orang bantu anak yatim direkam, orang sedekah direkam, bahkan shalat pun kadang tiga kamera, pake drone pula,” ujarnya.
Fenomena ini disebut para sosiolog sebagai performative altruism, kebaikan yang dilakukan lebih untuk tampil baik di mata publik, bukan semata karena niat menolong.
Ongah juga menyinggung fenomena lain: orang kecil yang dijadikan “objek konten.”
Ia mencontohkan Pak Usman, pedagang kecil yang rumahnya difoto dan kondisinya diekspos saat menerima bantuan.
“Dapat bantuan iya, tapi harga diri terkikis. Menolak difoto bisa-bisa bantuannya batal,” ujar Ongah getir.
“Sejak kapan bantu orang harus ada syarat konten?”
Bagi sebagian orang, kata Ongah, kebaikan kini seperti saham digital. Nilainya naik turun tergantung engagement rate.
Makin banyak like, makin tinggi moralitas.
“Padahal kalau niatnya udah berubah jadi branding, itu bukan lagi kebaikan, itu strategi promosi,” katanya.
Meski begitu, Ongah mengingatkan agar jangan terlalu skeptis. Tak semua unggahan buruk niatnya. Ada juga yang benar-benar tulus ingin menginspirasi. Tapi tetap, ia menegaskan:
“Kebaikan sejati tak perlu caption bijak, tak perlu tagar puitis. Cukup dilakukan, selesai.”
Ongah bukan anti media sosial, tapi ia tegas soal niat.
“Sebelum posting, tanya diri sendiri: ini aku bantu karena ingin menolong, atau ingin tampil jadi penolong?”
Kalau jawabannya yang kedua, kata Ongah, lebih baik simpan saja di hati.
“Kebaikan yang disimpan Tuhan tak pernah basi. Yang kau posting, besok bisa tenggelam di linimasa.”
Menutup celotehnya, Ongah menyeduh kopi terakhir sambil tersenyum:
“Kebaikan sejati tak perlu spotlight. Cukup jadi rahasia antara kau, dia yang kau bantu, dan Tuhan yang Maha Tahu.
Jadi kalau niat baik hari ini, jangan buru-buru buka kamera tapi buka hati dulu. Baru itu namanya kebaikan yang tak perlu filter.”


