posmetrobatam.co.id | Paris Saint-Germain (PSG) berpeluang menorehkan sejarah baru ketika menghadapi Arsenal pada final Liga Champions di Puskas Arena, Budapest, Sabtu (30/5/2026).
Bagi pelatih Luis Enrique, laga ini bukan sekadar perebutan trofi, melainkan kesempatan menegaskan PSG sebagai salah satu tim terbaik dalam era modern sepak bola Eropa.
Liga Champions merupakan trofi paling bergengsi pada level klub Eropa dan kemenangan di Budapest akan membawa PSG masuk dalam kelompok elite. Jika berhasil mengalahkan Arsenal, PSG akan menjadi klub kedua yang mampu mempertahankan gelar sejak format Piala Eropa berubah menjadi Liga Champions pada 1992.
“Saya datang ke klub ini dengan keyakinan bahwa tujuan saya adalah menciptakan sejarah, dan kami sudah melakukannya,” ujar Luis Enrique.
“Namun, kami ingin terus melanjutkan kisah ini karena kami percaya masih banyak pencapaian yang bisa diraih,” tambah pria Spanyol ini.
PSG kini mulai disejajarkan dengan tim-tim legendaris yang pernah mendominasi Liga Champions. Meski demikian, mempertahankan gelar tetap menjadi tantangan besar yang gagal dicapai banyak klub elite Eropa selama bertahun-tahun.
Barcelona di bawah asuhan Pep Guardiola memang sempat meraih dua gelar dalam tiga musim. AC Milan dan Juventus pernah mencapai tiga final beruntun pada era 1990-an, tetapi hanya sekali menjadi juara. Ajax dan Manchester United juga sempat mendekati keberhasilan mempertahankan trofi sebelum gagal di partai puncak.
Real Madrid kemudian mematahkan kutukan tersebut lewat torehan tiga gelar beruntun pada periode 2016 hingga 2018. Dominasi Madrid yang diperkuat Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, Luka Modric, dan Toni Kroos hingga kini masih menjadi standar tertinggi di kompetisi Eropa.
Apabila PSG kembali juara musim ini, peluang untuk membangun dinasti baru akan terbuka lebar, terlebih skuad mereka saat ini didominasi pemain muda berbakat.
Luis Enrique berpeluang menyamai catatan Guardiola dan Zinedine Zidane sebagai pelatih yang memenangi Liga Champions sebanyak tiga kali. Namun, pelatih asal Spanyol itu menegaskan fokus utamanya bukan pada pencapaian pribadi.
Sejak membawa Barcelona menjuarai Liga Champions, Luis Enrique berhasil membentuk PSG menjadi tim dengan karakter menyerang agresif yang dipadukan dengan intensitas tinggi. Strategi bermain terbuka dan berani mengambil risiko membuat PSG tampil berbeda dibanding tim-tim Eropa lainnya.
Pada final musim lalu, PSG tampil luar biasa ketika menghancurkan Inter Milan 5-0. Kemenangan itu disebut-sebut sebagai salah satu penampilan final paling dominan sepanjang sejarah turnamen.
Kekuatan PSG juga didukung regenerasi pemain muda. Desire Doue, pencetak dua gol pada final musim lalu, masih berusia 20 tahun. Sementara Joao Neves yang menjadi motor lini tengah baru menginjak usia 21 tahun.
Penampilan impresif PSG musim ini terlihat jelas ketika mereka menyingkirkan Bayern Munchen dengan agregat 5-4 pada semifinal Liga Champions. Namun, gelar juara kembali dibutuhkan untuk benar-benar mengukuhkan status mereka sebagai tim terbaik generasi sekarang.
Banyak pengamat masih menganggap Barcelona era Guardiola dengan Lionel Messi, Xavi, dan Andres Iniesta sebagai tim terbaik dalam era modern. Sebagian lainnya menilai Barcelona asuhan Luis Enrique pada 2015 yang diperkuat Messi, Neymar, dan Luis Suarez bahkan lebih sempurna.
Secara statistik, Real Madrid era Zidane tetap sulit ditandingi setelah mampu meraih empat gelar Liga Champions dalam lima musim, termasuk tiga trofi beruntun.
Meski baru meraih gelar pertama tahun lalu dan masih jauh dibanding koleksi 15 trofi milik Madrid, PSG kini memiliki peluang besar untuk mulai membangun warisan kejayaan sendiri.
Perjalanan PSG menuju titik ini juga tidak singkat. Dukungan finansial Qatar membuat klub asal Prancis itu pernah mendatangkan banyak superstar dunia seperti Messi, Neymar, Kylian Mbappe, hingga Zlatan Ibrahimovic dengan biaya fantastis demi menaklukkan Eropa.
Namun, keberhasilan justru datang setelah PSG mengubah pendekatan menjadi lebih kolektif dan berbasis kekuatan tim. Meski tetap dihuni pemain bintang, keseimbangan permainan kini menjadi identitas utama mereka.
Kepergian Messi, Neymar, dan Mbappe membuka ruang bagi generasi baru seperti Desire Doue, Joao Neves, dan Khvicha Kvaratskhelia untuk berkembang. Ousmane Dembele yang sebelumnya dianggap gagal memenuhi ekspektasi di Barcelona juga bangkit di Paris dan menjadi figur penting dalam skuad saat ini.
PSG mencapai semifinal pada musim pertama Luis Enrique, kemudian menjuarai Liga Champions musim lalu, dan kini berpeluang mencetak sejarah dengan mempertahankan gelar.
“Saya merasa tekanan musim lalu jauh lebih besar karena semua orang berkata kami tidak boleh gagal,” kata Luis Enrique.
“Musim ini tekanannya berbeda karena kami percaya memang layak menjadi juara,” tambah mantan pemain Real Madrid dan Barcelona ini.
Pada sisi lain, Arsenal datang dengan misi menciptakan kejutan sekaligus memburu gelar Liga Champions pertama sepanjang sejarah klub.
Juara Liga Premier itu melaju ke final Liga Champions setelah tampil impresif sejak fase liga dengan catatan kemenangan sempurna. Tim asuhan Mikel Arteta juga ingin membalas kekalahan dari PSG pada semifinal musim lalu.
“Ini adalah dua tim luar biasa dari segi cara bermain, kemampuan beradaptasi, dan intensitas mereka,” ujar Arteta.
“Kami harus tampil dalam versi terbaik untuk bisa memenangkan pertandingan ini,” sambung Arteta, yang juga dari Spanyol.
Editor : Aken





