BMKG Akui Kerugian Negara Akibat Karhutla Menurun

Jakarta | BMKG mengaku, pemerintah Indonesia berhasil meredam nilai kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Penurunan signifikan nilai kerugian ini, berkat berbagai upaya penanganan yang dilakukan pemerintah selama tahun 2025.

Kepala BMKG, Dwi Korita membeberkan, data perbandingan pada tahun 2019 saat terjadi fenomena El Niño moderat. Pada saat itu, total kerugian negara akibat karhutla mencapai Rp75 triliun.

Bacaan Lainnya

“Pada tahun 2025, dengan dukungan operasi modifikasi cuaca (OMC) serta langkah-langkah mitigasi lainnya, nilai kerugian menurun drastis. Menjadi Rp6,7 triliun, ada selisih kerugian sekitar Rp68,25 triliun yang berhasil dihindari melalui berbagai upaya penanganan karhutla,” kata Dwi dalam keterangannya, di Jakarta, Selasa (14/10/2025).

Dari sisi ‘cost-benefit ratio’ (CBR), Dwi menjelaskan, penanganan karhutla tahun ini menunjukkan hasil yang sangat positif. Namun, BMKG mengingatkan, adanya potensi karhutla lanjutan pada Februari 2025, terutama di Provinsi Riau.

BMKG, kata Dwi, mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Menghadapi bencana hidrometeorologi basah menjelang akhir tahun.

“Memasuki November, potensi banjir bandang di sejumlah wilayah seperti Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Itu semua perlu diantisipasi, bencana ini sering kali menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar,” ucap Dwi.

Sebelumnya, Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan bersama BMKG dan BNPB menggelar rapat membahas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Hasilnya pemerintah akan melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) dini di wilayah Riau.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menjelaskan, OMC dini dilakukan setelah BMKG melihat wilayah Riau akan memasuki musim kemarau. Musim kemarau akan terjadi pada awal yang diprediksi terjadi pada Februari 2026.

“Tahun depan itu OMC harus mulai, ketika masih musim hujan, sehingga tinggi muka air, terutama di gambut. Dapat kita antisipasi, ini sebelum kekeringan dan kebakaran itu terjadi,” kata Raja Juli.

Raja Juli mengatakan, kemarau awal ini terjadi pada saat sebagian wilayah masih mengalami musim hujan. Sehingga diharapkan OMC bisa menyeimbangkan tinggi muka air di wilayah gambut yang berpotensi terbakar.

“Kalau ini bisa dilakukan secara lebih dini, itulah saya kira kenapa angka ini selalu bisa turun. Kita percaya ilmu pengetahuan dan dieksekusi dengan baik oleh BNPB dan kawan-kawan di lapangan,” ucap Raja Juli.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *