posmetrobatam.co.id | Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, segala puji bagi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā yang masih mempertemukan kita dengan hari ke-7 di bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Tak terasa kita telah memasuki hari ke-7 Ramadan. Artinya, sudah sepekan kita ditempa oleh madrasah ruhani bernama Ramadan. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebuah perjalanan spiritual untuk membersihkan hati, menundukkan hawa nafsu, serta memperkuat keimanan.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah la‘allakum tattaqūn agar kita menjadi pribadi yang bertakwa. Takwa bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi kesadaran penuh bahwa Allah selalu mengawasi setiap langkah kita. Takwa adalah rem dalam kehidupan, yang menahan kita dari dosa, sekaligus pendorong untuk melakukan kebaikan.
Hari ke-7 Ramadan adalah momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah puasa kita melahirkan perubahan? Sudahkah lisan kita lebih terjaga? Sudahkah hati kita lebih bersih dari iri dan dengki?
Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menjadi peringatan keras bagi kita. Puasa bukan hanya urusan perut, tetapi juga urusan hati dan lisan. Jika masih ada kebohongan, ghibah, fitnah, dan kata-kata yang menyakiti sesama, maka nilai puasa kita bisa berkurang bahkan hilang.
Ramadan mengajarkan kita kejujuran. Saat kita sendirian dan mampu saja untuk minum atau makan secara sembunyi-sembunyi, tetapi kita tidak melakukannya. Mengapa? Karena kita yakin Allah melihat. Inilah latihan keikhlasan yang luar biasa.
Selain menahan diri dari dosa, Ramadan juga bulan penuh ampunan. Setiap malam Allah membuka pintu rahmat-Nya. Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa besarnya karunia Allah. Dengan syarat īmānan waḥtisāban beriman dan mengharap pahala. Artinya, puasa dilakukan dengan keyakinan penuh dan niat tulus semata-mata karena Allah, bukan karena kebiasaan, bukan karena ikut-ikutan, dan bukan sekadar tradisi.
Di hari ke-7 ini, mari kita perbaiki niat. Jika di hari-hari sebelumnya masih ada kekurangan, maka sisa Ramadan adalah kesempatan emas untuk memperbaikinya.
Ramadan juga bulan Al-Qur’an. Allah berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Maka, jangan biarkan Ramadan berlalu tanpa kedekatan kita dengan Al-Qur’an. Bacalah walau satu halaman sehari, pahami maknanya, dan amalkan isinya. Karena Al-Qur’an bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk menjadi cahaya dalam kehidupan.
Hari ke-7 ini juga mengingatkan kita bahwa waktu berjalan sangat cepat. Baru kemarin kita menyambut Ramadan dengan penuh harap, kini sepekan telah berlalu. Jangan sampai Ramadan meninggalkan kita dalam keadaan yang sama seperti sebelum Ramadan.
Mari jadikan Ramadan sebagai titik balik. Perbaiki shalat kita. Perbanyak sedekah kita. Lembutkan sikap kita kepada keluarga. Ringankan langkah kita menuju masjid. Hidupkan malam-malam dengan doa dan istighfar.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ
“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang disebut Ar-Rayyan, yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga kita termasuk golongan yang dipanggil melalui pintu Ar-Rayyan itu.
Akhirnya, mari kita jadikan hari ke-7 Ramadan ini sebagai momentum evaluasi dan perbaikan diri. Jangan hanya menghitung hari menuju Idulfitri, tetapi hitunglah amal yang sudah kita kumpulkan. Jangan hanya menahan lapar, tetapi tahan pula amarah dan kesombongan.
Semoga Allah menerima puasa kita, mengampuni dosa-dosa kita, melipatgandakan pahala kita, dan menjadikan kita insan yang lebih bertakwa setelah Ramadan berlalu.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.





