posmetrobatam.co.id | Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, memasuki hari ke-24 Ramadhan. Artinya, kita berada di sepuluh malam terakhir Ramadhan, masa yang sangat istimewa dalam bulan penuh berkah ini. Inilah waktu yang paling berharga bagi seorang mukmin untuk meningkatkan ibadah, memperbanyak doa, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Ramadhan sebentar lagi akan meninggalkan kita. Pertanyaannya adalah: apakah kita sudah memanfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya? Ataukah hari-hari Ramadhan berlalu begitu saja tanpa perubahan dalam diri kita?
Allah SWT mengingatkan kita dalam Al-Qur’an bahwa tujuan utama puasa adalah agar manusia menjadi pribadi yang bertakwa.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menjelaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah proses pendidikan jiwa, latihan kesabaran, serta cara untuk membersihkan hati dari dosa dan kesalahan.
Sepuluh malam terakhir Ramadhan juga menyimpan sebuah malam yang sangat agung, yaitu Lailatul Qadar. Malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.
Allah SWT berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Artinya:
“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”
(QS. Al-Qadr: 3)
Seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun ibadah. Artinya, satu malam ibadah di malam Lailatul Qadar bisa bernilai seperti beribadah sepanjang umur manusia.
Karena itu Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Bahkan beliau meningkatkan ibadah melebihi malam-malam sebelumnya.
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَشَدَّ مِئْزَرَهُ
Artinya:
Dari Aisyah RA berkata: “Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, Rasulullah SAW menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam beribadah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa Ramadhan tidak berakhir dengan kemalasan, justru di penghujungnya kita harus lebih semangat dalam beribadah.
Ada beberapa amalan yang sangat dianjurkan untuk kita perbanyak pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Pertama, memperbanyak shalat malam (qiyamul lail). Baik shalat tahajud, tarawih, maupun witir. Malam adalah waktu yang paling dekat antara hamba dengan Rabb-nya.
Kedua, memperbanyak membaca Al-Qur’an. Ramadhan adalah bulan turunnya Al-Qur’an. Setiap huruf yang kita baca akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT.
Ketiga, memperbanyak istighfar dan doa. Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah untuk dibaca ketika berharap bertemu Lailatul Qadar adalah:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Artinya:
“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Keempat, memperbanyak sedekah dan kebaikan. Ramadhan adalah bulan berbagi. Memberi makan orang yang berbuka puasa, membantu fakir miskin, dan menyantuni anak yatim adalah amalan yang sangat dicintai Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
Artinya:
“Barang siapa memberi makan kepada orang yang berbuka puasa, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.”
(HR. Tirmidzi)
Hari-hari terakhir Ramadhan juga seharusnya menjadi momen muhasabah diri. Kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri:
Apakah setelah Ramadhan kita akan menjadi pribadi yang lebih baik?
Apakah shalat kita akan lebih terjaga?
Apakah Al-Qur’an akan tetap kita baca setiap hari?
Ramadhan sejatinya adalah madrasah kehidupan. Jika setelah Ramadhan kita tetap rajin beribadah, menjaga lisan, memperbanyak sedekah, dan menjaga akhlak, maka itu tanda bahwa Ramadhan telah berhasil mendidik kita.
Sebaliknya, jika setelah Ramadhan kita kembali kepada kebiasaan lama yang penuh dosa, maka kita perlu khawatir bahwa puasa kita belum memberikan perubahan dalam hati.
Mari kita manfaatkan sisa Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai Ramadhan pergi sementara kita belum mendapatkan ampunan Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
Artinya:
“Celakalah seseorang yang mendapati bulan Ramadhan, kemudian Ramadhan itu berlalu sebelum ia mendapatkan ampunan.”
(HR. Tirmidzi)
Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan ampunan, rahmat, serta keberkahan di bulan Ramadhan ini.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-Mu yang mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadar. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh kaum muslimin. Pertemukanlah kami kembali dengan Ramadhan di tahun-tahun yang akan datang dalam keadaan iman yang lebih kuat.
Amin ya Rabbal ‘alamin.





