posmetrobatam.co.id | Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, memasuki hari ke-25 Ramadan. Artinya, bulan yang penuh berkah ini hampir berada di penghujungnya. Waktu terasa begitu cepat berlalu. Hari-hari yang kita jalani di awal Ramadan, kini telah berubah menjadi malam-malam terakhir yang penuh harapan dan ampunan.
Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi bulan pembersihan jiwa, penguatan iman, dan penghapusan dosa. Setiap detik di bulan ini adalah kesempatan emas bagi seorang hamba untuk kembali mendekat kepada Allah SWT.
Allah SWT mengingatkan kita dalam Al-Qur’an tentang tujuan utama dari ibadah puasa:
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama dari puasa adalah mencapai derajat takwa. Takwa bukan hanya sekadar kata, tetapi sebuah kondisi hati yang selalu merasa diawasi oleh Allah. Orang yang bertakwa akan menjaga lisannya, menjaga perbuatannya, dan menjaga hatinya dari segala yang dilarang oleh Allah.
Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah SAW memberikan contoh kepada umatnya untuk lebih meningkatkan ibadah. Beliau tidak ingin melewatkan kesempatan emas yang mungkin tidak akan kita temui lagi di tahun berikutnya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ مِئْزَرَهُ
Artinya:
“Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah SAW menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan betapa seriusnya Rasulullah SAW memanfaatkan malam-malam terakhir Ramadan. Beliau tidak hanya beribadah sendiri, tetapi juga membangunkan keluarganya agar mereka juga meraih keberkahan yang sama.
Salah satu keistimewaan terbesar di sepuluh malam terakhir ini adalah malam Lailatul Qadar. Malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Artinya:
“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”
(QS. Al-Qadr: 3)
Seribu bulan berarti lebih dari 83 tahun ibadah. Bayangkan, satu malam saja kita beribadah dengan penuh keikhlasan, nilainya melebihi ibadah seumur hidup manusia.
Karena itu, para ulama selalu mengingatkan bahwa malam-malam terakhir Ramadan adalah puncak perjuangan seorang mukmin. Jangan sampai kita justru melemah ketika Ramadan hampir berakhir.
Rasulullah SAW juga bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya:
“Barang siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Di hari ke-25 Ramadan ini, marilah kita merenung sejenak. Apakah puasa kita sudah benar-benar membawa perubahan dalam diri kita?
- Apakah lisan kita lebih terjaga?
- Apakah hati kita lebih lembut?
- Apakah kita lebih rajin beribadah dibandingkan sebelum Ramadan?
Jika jawabannya belum, maka masih ada waktu untuk memperbaiki. Selama Ramadan belum berakhir, pintu rahmat Allah masih terbuka lebar.
Allah SWT berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
Artinya:
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini adalah pesan penuh harapan dari Allah kepada seluruh hamba-Nya. Tidak peduli seberapa banyak dosa kita di masa lalu, Allah tetap membuka pintu ampunan bagi siapa saja yang ingin kembali kepada-Nya.
Oleh karena itu, di sisa Ramadan ini marilah kita memperbanyak:
- Istighfar memohon ampun kepada Allah
- Membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya
- Qiyamul lail atau shalat malam
- Sedekah kepada yang membutuhkan
- Doa, terutama doa yang diajarkan Rasulullah saat mencari Lailatul Qadar
Rasulullah SAW mengajarkan doa yang sangat istimewa:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Artinya:
“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
(HR. Tirmidzi)
Ramadan adalah tamu agung yang sebentar lagi akan meninggalkan kita. Kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengan bulan yang mulia ini.
Maka jangan biarkan Ramadan pergi tanpa membawa perubahan dalam diri kita. Jadikan Ramadan sebagai titik awal untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih dekat kepada Allah.
Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadan ini, mengampuni dosa-dosa kita, dan mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.





