SPPG Senggarang di Tanjungpinang Ditutup, IPAL Bermasalah dan Belum Kantongi SLHS

Tanjungpinang | Satu unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kawasan Senggarang, Kota Tanjungpinang, ditutup sementara setelah ditemukan sejumlah persyaratan operasional yang belum terpenuhi.

Penutupan dilakukan menyusul inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Wakil Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Nyanyang Haris Pratamura ke SPPG tersebut.

Bacaan Lainnya

Dalam sidak itu, Nyanyang menemukan persoalan pada sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Selain itu, SPPG tersebut juga diketahui belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dari Dinas Kesehatan.

Nyanyang menegaskan, SPPG yang belum memenuhi ketentuan tidak diperbolehkan melanjutkan operasional sebelum seluruh persyaratan dilengkapi.

“Di Kepri sudah ada dua SPPG yang tutup. Kemarin ada di daerah Natuna dan Tanjungpinang yang IPAL-nya tidak benar,” kata Nyanyang di Tanjungpinang, Rabu (16/9).

Menurut Nyanyang, SLHS merupakan salah satu persyaratan penting yang harus dipenuhi sebelum SPPG menjalankan kegiatan operasional. Persyaratan tersebut berkaitan dengan standar higiene dan sanitasi dalam penyediaan makanan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia menyebut Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) wilayah Riau dan Kepri juga telah menginstruksikan agar SPPG yang belum memenuhi persyaratan ditutup sementara.

“Kalau belum melengkapi SLHS, tidak bisa melanjutkan operasional,” ujarnya.

Tak hanya persoalan IPAL dan SLHS, pemerintah juga menyoroti sumber air yang digunakan SPPG. Nyanyang meminta setiap pengelola memastikan sumber air yang digunakan jelas serta memenuhi standar yang telah ditetapkan.

“Sumber airnya memang harus ada standardisasinya. Kalau sumber bor ataupun air dari mana, harus ada,” tegasnya.

Nyanyang selanjutnya meminta seluruh pengelola SPPG di Kepri memastikan fasilitas, sanitasi, sumber air, hingga proses operasional berjalan sesuai ketentuan BGN.

Menurutnya, kepatuhan terhadap standar tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan makanan yang disalurkan melalui program MBG tetap aman dan memenuhi kualitas yang ditetapkan.

“Karena ini adalah untuk keberlangsungan anak-anak kita semuanya. Jangan sampai nanti program ini berjalan terus, tetapi tidak maksimal,” pungkasnya.

 

 

Reporter : Januar

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *