Batam | Dua pasar rakyat di Kota Batam yang dibangun menggunakan dana miliaran rupiah dari pemerintah pusat sejak 2019 kini bernasib tragis: mangkrak, terbengkalai, dan tak pernah difungsikan. Pasar Rakyat Batuaji di Tanjunguncang dan Pasar Wan Sri Beni di Marina, Sekupang, kini menjadi simbol ironi pembangunan.
Pantauan di lapangan pada Rabu (23/7/2025), kondisi kedua pasar jauh dari layak. Pasar Batuaji misalnya, tampak seperti bangunan tua tak bertuan dikelilingi semak belukar, kaca-kaca pecah, dinding penuh coretan, dan atap yang bocor. Bangunannya tertutup rapat, tak pernah digunakan. Padahal lokasinya hanya selemparan batu dari Rusunawa Pemko Batam dan permukiman padat penduduk.
“Dulu pernah ada tiga pedagang coba jualan di luar pasar, tapi sepi. Akhirnya tutup juga,” ujar Arman, warga sekitar. Ia menyayangkan pasar senyap itu, yang sejatinya bisa menjadi pusat ekonomi warga sekitar.
Kepala Bidang Pasar Disperindag Batam, Elfasi, mengakui problem ini dan menyebut keberadaan pasar kaget jadi tantangan tersendiri. Pemerintah berencana menertibkan pasar-pasar liar dan mengalihkan pedagangnya ke pasar resmi, namun hingga kini rencana itu masih di atas kertas.
Nasib serupa juga dialami Pasar Wan Sri Beni di Marina. Pasar dengan bangunan luas dan fasilitas lengkap ini tak pernah disentuh aktivitas jual-beli sejak rampung enam tahun silam. Tak ada akses jalan memadai, tumpukan sampah menutupi jalur masuk, dan kawasan sekitar dipenuhi ilalang.
“Sayang sekali kalau hanya jadi bangunan mati. Kami minta akses jalan dibangun, fasilitas dilengkapi, dan kebersihan diperhatikan,” keluh Suradi, warga Marina.
Senada, Sofia, warga perumahan Devin Premier menilai lokasi pasar strategis namun kurang sentuhan serius. “Kalau suasananya nyaman, pasti orang datang. Tapi sekarang kesannya seperti tempat angker,” ujarnya.
Kepala Disperindag Batam, Gustian Riau, menyatakan pihaknya kini mencoba menggandeng pihak swasta untuk menghidupkan Pasar Wan Sri Beni. Pemerintah juga akan mengakomodasi pedagang liar untuk pindah ke pasar resmi.
“Kita belajar dari pengalaman, seperti Pasar TPID II Dreamland yang gagal karena kurang pengunjung. Ke depan, kolaborasi pemerintah, swasta, dan warga menjadi kunci,” ujarnya.
Kini, harapan publik menggantung pada janji pemerintah. Jika benar-benar dikelola dengan serius, dua pasar rakyat ini masih bisa diselamatkan dan menjadi motor penggerak ekonomi warga — bukan sekadar monumen bisu dari proyek yang gagal dimanfaatkan.





