Hangatnya Silaturahmi Idulfitri 1447 H di Tepi Laut Belakang Padang: Sembang Penuh Makna Bersama Kadis Ketahanan Pangan Kota Batam dan Tokoh Masyarakat

Belakang Padang | Sabtu malam (4/4) di dataran Lang Lang Laut, Belakang Padang, terasa berbeda dari biasanya. Angin laut yang berembus lembut membawa suasana hangat yang tak hanya datang dari lampu-lampu warung sederhana, tetapi juga dari kebersamaan yang terjalin erat di antara para tokoh yang hadir. Dalam balutan nuansa Idulfitri 1447 Hijriah, silaturahmi menjadi jembatan yang menyatukan hati, lintas generasi, lintas pengalaman.

Di sebuah meja sederhana, terlihat Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Batam, Mardanis duduk bersama para pensiunan ASN Pemerintah Kota Batam dan tokoh masyarakat Belakang Padang. Tanpa sekat jabatan dan status, suasana mengalir hangat dalam obrolan santai sebuah “sembang” khas Melayu yang sarat makna.

Cangkir-cangkir kopi dan piring-piring hidangan ringan menjadi saksi percakapan yang tidak hanya membahas masa lalu, tetapi juga masa depan. Tawa sesekali pecah, mencairkan suasana, seakan menghapus jarak waktu antara masa pengabdian dan kondisi hari ini. Para pensiunan ASN berbagi cerita tentang perjalanan mereka membangun Batam dari masa ke masa, sementara generasi yang masih aktif mendengarkan dengan penuh hormat.

Mardanis sendiri tampak begitu membaur. Dengan sikap sederhana dan penuh keakraban, ia menyimak setiap kisah yang disampaikan, sekaligus berbagi pandangan terkait pentingnya ketahanan pangan sebagai fondasi kesejahteraan masyarakat. Dalam suasana santai itu, diskusi yang muncul justru terasa lebih jujur dan membumi menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, khususnya di wilayah hinterland seperti Belakang Padang.

Tokoh-tokoh masyarakat yang hadir pun turut memberikan warna dalam pertemuan tersebut. Mereka menyampaikan harapan, aspirasi, serta pandangan tentang kondisi sosial dan ekonomi masyarakat pesisir. Semua disampaikan dengan gaya khas lugu, terbuka, dan penuh keikhlasan.

Di tengah gemerlap lampu warung dan suara ombak yang samar terdengar, pertemuan itu menjadi lebih dari sekadar silaturahmi. Ia menjelma menjadi ruang dialog, tempat bertemunya pengalaman dan gagasan, antara masa lalu yang penuh dedikasi dan masa depan yang masih terus diperjuangkan.

Idulfitri memang identik dengan saling memaafkan dan mempererat hubungan. Namun malam itu di Lang Lang Laut, maknanya terasa lebih dalam. Bukan hanya saling bermaafan, tetapi juga saling menguatkan bahwa kebersamaan adalah kekuatan utama dalam membangun daerah.

Silaturahmi sederhana ini menjadi bukti bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari ruang rapat resmi. Kadang, ia justru lahir dari meja sederhana, dari secangkir kopi, dan dari percakapan hangat yang tulus di bawah langit malam Belakang Padang.

 

Redaksi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *