Batam | Polemik di media sosial sempat mencuat menyusul pernyataan Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, terkait warga tanpa KTP Batam. Pernyataan tersebut memicu beragam reaksi publik, bahkan menimbulkan perdebatan panjang di ruang digital.
Di tengah riuhnya perbincangan, perhatian publik kemudian beralih pada langkah Wali Kota Batam, Amsakar Ahmad, yang justru tampil memberikan klarifikasi. Tak sedikit netizen mempertanyakan, mengapa klarifikasi tersebut disampaikan langsung oleh wali kota, bukan oleh wakilnya.
Namun, dalam perspektif kepemimpinan, langkah tersebut bukanlah hal yang janggal. Justru, pola komunikasi bertingkat seperti ini merupakan pendekatan strategis yang lazim diterapkan dalam organisasi, baik pemerintahan maupun perusahaan. Di sanalah terlihat peran dan posisi seorang pemimpin puncak yang hadir pada momen krusial untuk memberikan penegasan akhir.
Konsep ini sejalan dengan prinsip kepemimpinan yang kerap digaungkan: “top leaders should speak last in meetings.” Seorang pemimpin tidak perlu menjadi yang pertama bersuara, melainkan menjadi penutup yang merangkum, menimbang, dan memutuskan dengan bijak setelah mendengar berbagai sudut pandang.
Dalam kearifan lokal, hal ini serupa dengan pepatah Jawa “sabdo pandito ratu”, yang menegaskan bahwa ucapan seorang pemimpin memiliki bobot besar ibarat kata seorang pandito yang bijaksana sekaligus raja yang berkuasa. Setiap pernyataan bukan sekadar respons, melainkan arah yang akan diikuti oleh masyarakat.
Karena itu, seorang pemimpin tidak dituntut untuk banyak bicara. Sebaliknya, ia diharapkan mampu menyampaikan hal yang esensial, terukur, dan penuh pertimbangan. Setiap kata yang keluar harus telah melalui proses pemikiran matang, mempertimbangkan dampak serta implikasinya bagi publik.
Apa yang dilakukan Amsakar Ahmad dalam merespons isu ini mencerminkan gaya kepemimpinan yang tidak reaktif, melainkan reflektif dan strategis. Ia memilih untuk mendengar terlebih dahulu, menyerap dinamika yang berkembang, lalu hadir memberikan klarifikasi sebagai penegasan akhir.
Dari peristiwa ini, publik dapat melihat dua hal penting. Pertama, sikap bijaksana seorang pemimpin yang memberi ruang bagi masukan kolektif sebelum mengambil sikap. Kedua, kemampuan berpikir strategis yang mengedepankan analisis komprehensif dibandingkan respons emosional.
Pada akhirnya, berbicara terakhir bukanlah sekadar pilihan komunikasi, melainkan cerminan kualitas kepemimpinan itu sendiri tenang, terukur, dan penuh makna.
Editor : Aken





