Pacu Laut Penawar Rindu Naik Kelas, Pariwisata dan UMKM Belakang Padang Ikut Kebagian Berkah

Belakang Padang | Deru mesin perahu, kibaran layar dan riuh sorak penonton menjadi pemandangan yang mewarnai perairan Belakang Padang sejak Sabtu (15/8/2026). Ribuan masyarakat memadati kawasan pesisir untuk menyaksikan Pacu Laut Penawar Rindu yang digelar dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Namun, di balik ketatnya persaingan para peserta di atas air, ada cerita lain yang ikut bergerak di daratan. Kedatangan ribuan pengunjung dari berbagai daerah turut menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat Kecamatan Belakang Padang.

Bacaan Lainnya

Warung makan dipadati pembeli, dagangan pelaku UMKM semakin ramai, transportasi lokal ikut bergerak dan penginapan mendapat tambahan tamu. Semarak perlombaan bahari itu perlahan menjelma menjadi perputaran ekonomi yang dirasakan langsung masyarakat.

Puncak kegiatan berlangsung pada Senin (17/8), bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Antusiasme masyarakat terlihat semakin besar karena pengunjung bukan hanya berasal dari Batam dan wilayah sekitarnya, tetapi juga dari luar daerah hingga Malaysia dan Singapura.

Kehadiran peserta dari berbagai daerah dan negara tetangga membuat Pacu Laut Penawar Rindu tidak lagi sekadar menjadi perlombaan tradisional. Ajang tersebut mulai berkembang menjadi magnet wisata bahari yang mampu mempertemukan budaya, pariwisata dan ekonomi masyarakat dalam satu kegiatan.

Pemerintah Kota Batam melihat potensi tersebut sebagai sesuatu yang perlu terus dikembangkan.

Sekretaris Daerah Kota Batam, Firmansyah, yang mewakili Wali Kota Batam Amsakar Achmad, mengatakan Pacu Laut Penawar Rindu sejalan dengan dua program prioritas pemerintah daerah, yakni pengembangan sektor pariwisata dan pemberdayaan UMKM.

“Ini sudah dua program prioritas Pak Wali yang disukseskan oleh masyarakat Belakang Padang. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui,” ujar Firmansyah saat berada di lokasi kegiatan, Senin (17/8/2026).

Menurut Firmansyah, besarnya jumlah masyarakat yang hadir menunjukkan bahwa kegiatan tersebut telah memberikan dampak yang lebih luas daripada sekadar hiburan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan.

“Begitu banyak masyarakat yang datang. Dari sini timbul dampak positif,” katanya.

Keramaian yang terjadi selama kegiatan juga menjadi peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan pendapatan. Setiap pengunjung yang datang membutuhkan berbagai layanan, mulai dari makanan dan minuman, transportasi laut, penginapan hingga beragam produk UMKM lokal.

Dengan demikian, semakin banyak masyarakat yang datang, semakin besar pula potensi perputaran ekonomi yang tercipta di Pulau Penawar Rindu.

Camat Belakang Padang, Abdul Hanafi, mengatakan dampak tersebut memang menjadi salah satu tujuan utama digelarnya Pacu Laut Penawar Rindu. Menurutnya, kegiatan yang dikemas dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI itu tidak hanya bertujuan menghidupkan kembali tradisi bahari, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan manfaat ekonomi.

“Dengan adanya kegiatan ini, kita ingin masyarakat ikut merasakan dampaknya. Bukan hanya dari sisi hiburan, tetapi juga bagaimana UMKM, pelaku usaha, transportasi dan masyarakat secara keseluruhan bisa mendapatkan manfaat dari ramainya pengunjung yang datang ke Belakang Padang,” ujar Hanafi.

Ia menyebut meningkatnya jumlah peserta dan penonton menunjukkan bahwa Pacu Laut Penawar Rindu semakin dikenal. Tahun ini, perlombaan tersebut diikuti peserta dari berbagai daerah hingga negara tetangga.

“Alhamdulillah, antusias masyarakat dan peserta tahun ini cukup tinggi. Ini menunjukkan kegiatan kita semakin dikenal. Harapan kita, ke depan Pacu Laut ini bisa terus berkembang dan menjadi agenda tahunan yang mampu menarik lebih banyak orang datang ke Belakang Padang,” katanya.

Menurut Hanafi, semakin banyaknya pengunjung yang datang juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk memperkenalkan potensi lokal, baik budaya, kuliner maupun produk UMKM.

“Kalau semakin banyak orang datang, tentu semakin banyak pula yang bisa kita kenalkan. Kita punya budaya, tradisi bahari, kuliner dan berbagai produk UMKM. Semua itu bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan,” ujarnya.

Antusiasme tersebut juga terlihat dari meningkatnya jumlah peserta perlombaan sampan layar. Tahun ini, jumlah peserta bertambah dari 32 menjadi 37 peserta.

Tokoh masyarakat Belakang Padang, H. Hasim, menilai peningkatan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa Pacu Laut semakin mendapat perhatian dan memiliki daya tarik yang lebih besar dibandingkan pelaksanaan sebelumnya.

“Alhamdulillah, kegiatan tahun ini lebih meriah. Kami harap ini bisa memajukan UMKM Batam, khususnya di Belakang Padang,” ujarnya.

Bagi Hasim, Pacu Laut bukan hanya tentang siapa yang menjadi pemenang dalam perlombaan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali tradisi bahari masyarakat Belakang Padang sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga.

Harapan agar kegiatan tersebut terus berkembang juga disampaikan tokoh masyarakat lainnya, H. Laode Salman.

Menurutnya, Pacu Laut telah menjadi agenda yang dinantikan masyarakat. Tidak hanya warga Batam, daya tarik kegiatan tersebut mulai menjangkau masyarakat dari luar daerah bahkan mancanegara.

“Acara tahunan ini sudah ditunggu-tunggu, bukan hanya warga Batam tapi hingga mancanegara,” katanya.

Menurut Laode Salman, kondisi tersebut harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkenalkan lebih luas potensi wisata bahari dan budaya yang dimiliki Belakang Padang.

Kehadiran peserta dari Karimun, Malaysia dan Singapura menjadi bukti bahwa kegiatan yang berangkat dari tradisi masyarakat pesisir tersebut memiliki peluang untuk berkembang menjadi agenda wisata dengan jangkauan yang lebih luas.

Firmansyah bahkan menilai Pacu Laut Penawar Rindu kini telah mengalami peningkatan skala yang cukup signifikan.

“Kalau kami lihat, ini bukan lagi tingkat kota. Ini sudah seperti tingkat provinsi,” ujarnya.

Penilaian tersebut tidak terlepas dari semakin luasnya daerah asal peserta dan pengunjung yang datang. Ketika masyarakat dari luar Batam hingga negara tetangga ikut hadir, Pacu Laut tidak lagi hanya menjadi milik masyarakat Belakang Padang, tetapi mulai menjadi bagian dari agenda kegiatan yang memiliki daya tarik regional.

Ke depan, tantangannya adalah bagaimana menjaga momentum tersebut agar tidak berhenti pada kemeriahan satu kali dalam setahun.

Pacu Laut Penawar Rindu diharapkan terus dikembangkan dengan konsep yang semakin matang, sehingga wisatawan yang datang bukan hanya menyaksikan perlombaan, tetapi juga menikmati kekayaan budaya, kuliner, pemandangan bahari dan berbagai aktivitas masyarakat di Belakang Padang.

Jika jumlah kunjungan terus meningkat, manfaat ekonominya pun diharapkan semakin luas. UMKM mendapat pasar yang lebih besar, pelaku transportasi memperoleh tambahan penumpang, usaha penginapan berkembang dan berbagai sektor ekonomi lokal ikut bergerak.

Pada akhirnya, Pacu Laut Penawar Rindu bukan sekadar cerita tentang perlombaan di tengah laut. Di balik layar yang mengembang dan perahu yang berpacu, terdapat harapan besar masyarakat untuk menjadikan tradisi sebagai kekuatan ekonomi.

Belakang Padang memiliki laut, budaya dan tradisi yang menjadi identitas masyarakatnya. Ketika seluruh potensi itu dikemas dalam sebuah agenda yang mampu menarik perhatian hingga mancanegara, maka Pacu Laut dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan Pulau Penawar Rindu kepada dunia.

Dari sebuah perlombaan tradisional, Pacu Laut Penawar Rindu perlahan tumbuh menjadi magnet wisata bahari.

Dan ketika ribuan orang datang, yang bergerak bukan hanya perahu di atas laut, tetapi juga roda ekonomi masyarakat di daratan.

 

 

Reporter : M. Yusuf Suhaili
Editor : Zaki

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *