Batam | Orangtua di Batam mengeluhkan biaya perpisahan pelajar. Seperti diketahui, menjelang akhir tahun ajaran 2025/2026, anak didik khususnya kelas VI SD, kelas IX SMP hingga kelas XII SMA/SMK sederajat bakal melaksanakan perpisahan.
Selain mengeluhkan biaya perpisahan pelajar yang dianggap mahal, orangtua di Batam menilai hingga saat ini untuk kebijakan mengenai kegiatan sekolah. Khususnya di jenjang akhir dari Pemerintah dan juga Dinas Pendidikan (Disdik) belum keluar.
Beberapa orangtua di Kecamatan Batuaji dan Sagulung mulai mengeluhkan uang perpisahan yang sudah digodok oleh guru di sekolah.
Salah satu orangtua pelajar di Batuaji mengatakan jika di sekolah anaknya yang duduk dibangku SMPN di Batuaji, Apihak sekolah sudah mulai merencanakan untuk acara perpisahan.
“Di sekolah anak saya untuk uang perpisahan siswa itu sudah dipatok sebesar Rp 500 ribu,” kata orangtua siswa yang namanya tidak mau disebutkan identitasnya, Jumat (18/4/2025).
Ia mengatakan jika rencana perpisahan anak didik kelas sembilan tersebut direncanakan sudah sejak awal tahun dan untuk biaya perpisahan bisa dicicil hingga April 2025.
Sejak awal, ia tidak setuju dengan uang perpisahan pelajar. Namun, ia khawatir jika berkomentar justru menjadi sasaran di sekolah tempat anaknya.
“Kalau disekolah anak saya rencananya acara perpisahan akan dilaksanakan di hotel makanya uang perpisahan mahal,” ucapnya.
Biaya uang perpisahan yang akan dilakukan sekolah itu mulai mendapat sorotan dari anggota DPRD Batam.
Anggota Komisi I DPRD Batam, Tumbur Hutasoit mengatakan, dirinya sudah mendapat informasi mengenai uang perpisahan disekolah di Batuaji.
“Sudah ada juga orangtua yang melapor, tapi mereka kesannya ketakutan juga untuk komentar, ya mungkin pertimbangan ke anak ya,” ungkapnya.
Menurut Tumbur, perpisahan di sekolah itu adalah hal yang wajar.
Namun kalau harus menggunakan biaya yang besar lebih bagus tidak dilaksanakan.
“Kalau perpisahan salam-salaman dan melaksanakan kegiatan bersama di sekolah. Itu hal yang wajar. Tapi kalau perpisahan itu menjadi beban bagi orangtua itu tidak wajar dan lebih bagus ditiadakan,” kata Tumbur.
Tumbur Hutasoit mengatakan dirinya saat ini sedang mengumpulkan informasi mengenai sekolah-sekolah di Batuaji yang akan melaksanakan perpisahan yang menjadi beban bagi orangtua.
“Nanti orangtua akan kita kumpulkan, dan meminta agar pihak sekolah tidak melaksanakan perpisahan yang memberatkan orangtua,” ujarnya lagi.
Tumbur juga menegaskan dirinya paling tidak setuju jika perpisahan siswa khususnya sekolah Negeri dilaksanakan di luar sekolah.
“Sekarang ini kita tahu, pemerintah sudah menggratiskan uang sekolah. Hal ini dilakukan agar orangtua tidak terbebani dan anak umur sekolah tidak ada yang tidak sekolah,” kata Tumbur.
Kalau toh sekolah membebani orangtua, kepala sekolahnya dan juga guru-guru disekolah perlu dibina, agar mengerti maksud pemerintah menggratiskan uang pendidikan sekolah negeri.
Tumbur mengatakan jika di akhir masa pendidikan di satu tingkat sekolah, orangtua juga pasti memikirkan tingkat lainnya.
Contoh dari SD ke SMP, dari SMP ke SMA bahkan sampai kuliah.
“Jadi untuk perpisahan janganlah dilakukan jika membebani orangtua,” tutupnya.





