Batam | Gubernur Kepulauan Riau (Kepri), Ansar Ahmad, menyatakan bahwa pembangunan Jembatan Batam-Bintan (Babin) terus menunjukkan progres positif. Pemerintah menargetkan proses lelang terbuka proyek infrastruktur strategis ini dapat dilakukan pada akhir tahun 2025.
“Desain jembatan saat ini sedang dalam tahap finalisasi. Uji tanah atau soil test telah dilaksanakan, dan kami berharap akhir tahun ini sudah masuk tahap lelang terbuka,” ujar Ansar saat menghadiri kegiatan di Mapolda Kepri, Batam, Selasa (1/7/2025).
Jembatan Babin merupakan proyek strategis nasional (PSN) yang diharapkan menjadi penghubung utama antara Pulau Batam, Pulau Galang, dan Pulau Bintan. Infrastruktur ini diperkirakan menelan anggaran sebesar Rp16 hingga Rp17 triliun dengan panjang total sekitar 14,6 kilometer dan bentangan utama mencapai 7,6 kilometer.
Ansar menegaskan pentingnya keberadaan Jembatan Babin sebagai jalur konektivitas yang akan mempercepat mobilitas orang dan barang, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Kepri, terutama Pulau Bintan yang berpotensi mendapatkan limpahan investasi dari Batam.
“Batam saat ini berkembang pesat dalam hal investasi. Agar dampaknya meluas, kami juga mengusulkan agar Batam, Bintan, dan Karimun ditetapkan sepenuhnya sebagai kawasan perdagangan bebas (FTZ),” ujarnya.
Gubernur Kepri mengajak seluruh pihak untuk mendukung percepatan pembangunan ini demi terwujudnya pemerataan ekonomi di wilayah Kepulauan Riau. Jembatan Babin juga diharapkan menjadi penopang utama pengembangan kawasan Rempang Eco-City yang tengah digalakkan pemerintah pusat.
Proyek ini berada di bawah koordinasi Kementerian Perhubungan dan menjadi bagian penting dari upaya memperkuat konektivitas antarwilayah, mendorong pemerataan pembangunan, serta meningkatkan daya saing daerah di sektor industri, pariwisata, dan investasi.





