Menapak Jejak Ulama di Pulau Tulup: Wisata Religi di Belakang Padang yang Sarat Sejarah Islam

Belakang Padang| Di ujung barat daya Kota Batam, berdiri tenang Pulau Tulup, sebuah pulau kecil di Kecamatan Belakang Padang yang menyimpan jejak sejarah dakwah Islam di Nusantara. Berada di perbatasan Indonesia dan Singapura, Pulau Tulup kini menjadi destinasi wisata religi yang tak hanya sarat nilai spiritual, tapi juga menyuguhkan keindahan alam yang masih alami.

Bacaan Lainnya

Pulau ini terbagi menjadi dua wilayah, yakni Pulau Tulup Besar dan Pulau Tulup Kecil. Meski letaknya hanya selemparan batu dari negeri tetangga, suasana di Pulau Tulup terasa sangat berbeda. Sunyi, damai, dan penuh nuansa religius. Setiap akhir pekan atau hari besar keagamaan, pulau ini ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.

Sesampainya di dermaga, wisatawan disambut tulisan besar bertuliskan Wisata Religius Pulau Tulup. Dari sinilah perjalanan spiritual dimulai, menelusuri makam para ulama besar yang dahulu menjadi penyebar Islam di wilayah perairan selatan Selat Malaka.

Menurut Sanun, penjaga pulau sekaligus pemandu lokal, ada tiga makam ulama penting di Pulau Tulup: dua berada di Pulau Tulup Kecil, yakni makam Syekh Syarif Ainun Naim (dikenal juga sebagai Sunan Thulub) dan Syekh Maulana Nuh Maghrobi, serta satu lagi di Pulau Tulup Besar yaitu makam Habib Hasan Al Musawa.

“Syekh Ainun Naim ini saudara kandung dari Sunan Giri. Beliau berasal dari Samudra Pasai dan dikenal sebagai ulama besar yang berdakwah hingga ke pulau-pulau perbatasan,” jelas Sanun.

Makam Sunan Thulub terletak di atas bukit kecil, hanya sekitar 20 langkah dari bibir pantai menuju anak tangga pertama. Meski harus menapaki puluhan anak tangga dengan jarak yang cukup tinggi, semua rasa lelah akan terbayar saat sampai di puncak. Dari sini, peziarah bisa melihat hamparan laut biru dan pulau-pulau sekitar, ditemani semerbak aroma harum yang misterius meski tak ada bunga yang tumbuh di sekitar makam.

Bangunan makam bercat biru ini telah dipugar dan tampak terawat, dengan keramik bersih dan kiswah yang terpasang rapi. Meskipun belum banyak referensi tertulis tentang sosok Sunan Thulub, kehadiran makam ini menjadi bukti nyata bahwa dakwah Islam pernah tumbuh kuat di wilayah pesisir Kepulauan Riau.

Perjalanan dilanjutkan ke makam Syekh Maulana Nuh Maghrobi, seorang ulama asal Maroko yang dipercaya datang ke Nusantara sebagai utusan rahasia Kekhalifahan Abbasiyah. Namun kapalnya karam, dan beliau pun menetap serta wafat di Pulau Tulup pada tahun 427 Hijriyah. Makam beliau terletak di dekat pantai dan diapit dua pohon setigi yang diyakini sudah berumur ratusan tahun.

“Pohon ini dipercaya masyarakat sebagai penawar racun alami. Karena itu, masyarakat sangat menjaga agar tidak ada yang mengambil bagian dari pohon ini untuk dibawa keluar pulau,” ujar Sanun.

Pulau Tulup masuk dalam wilayah administratif Kelurahan Sekanak Raya, Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam. Camat Belakang Padang, Abdul Hanafi, SE mengatakan Pulau Tulup adalah pulau terluar yang berpenghuni dan letaknya berada tepat di belakang jalur pelayaran internasional.

Camat Belakang Padang, Abdul Hanafi, SE turut memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan Pulau Tulup sebagai destinasi wisata religi. Ia mengajak masyarakat setempat maupun dari luar daerah untuk menjadikan Pulau Tulup sebagai tempat tujuan wisata yang tidak hanya menyajikan keindahan alam, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai spiritual dan sejarah.

“Saya mengajak seluruh warga, khususnya generasi muda, untuk mengenal lebih dekat warisan sejarah dan religi yang ada di Pulau Tulup. Ini bukan sekadar perjalanan wisata, tapi juga sarana memperkuat iman dan mengenang perjuangan para ulama terdahulu,” ujar Abdul Hanafi, SE.

Ia juga berharap agar masyarakat ikut menjaga kebersihan dan kelestarian Pulau Tulup, serta menjadikannya sebagai salah satu ikon religi yang membanggakan di wilayah perbatasan.

“Ayo, berwisata religi ke Pulau Tulup! Temukan ketenangan batin, sejarah Islam yang tersembunyi, dan pesona alam yang masih perawan di gerbang perbatasan negeri,” ajak Abdul Hanafi, SE.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *