Anak Belakang Padang yang Menembus Batas: Perjalanan Irwanto Suhaili

Irwanto Suhaili

Jejak Langkah Irwanto Suhaili di Dunia Keimigrasian

Di sebuah sudut Kota Pekanbaru, lahirlah seorang anak laki-laki dari keluarga sederhana yang kelak menapaki perjalanan panjang penuh liku, jatuh bangun, dan pengabdian tanpa henti. Ia diberi nama Irwanto Suhaili, putra dari pasangan Suhaili Achmad dan Hj. Fatimah Aini.

Namun, jika Pekanbaru adalah tempat ia dilahirkan, maka Belakang Padang adalah tanah yang membesarkan jiwanya.

Keluarga Besar Suhaili Achmad

Di pulau kecil yang tenang itu, Irwanto tumbuh dalam kesederhanaan yang mengajarkan arti kehidupan sejak dini. Ia adalah satu dari 8 bersaudara: Fitrizal Yanto, dirinya sendiri, Izwandi, almarhum Hendri Suhardi, dan Muhamad Yusup, Sri, Hartuti, Ayu, Anti.  Dalam keluarga itu, tawa dan keterbatasan berjalan beriringan, membentuk ketahanan jiwa yang kelak menjadi bekal hidupnya.

Masa kecilnya di Belakang Padang bukan sekadar tentang bermain dan belajar, tetapi tentang memahami arti kebersamaan, kerja keras, dan bertahan dalam keterbatasan. Lingkungan kepulauan yang sederhana, jauh dari hiruk-pikuk kota besar, justru menempa karakter Irwanto menjadi pribadi yang tangguh dan rendah hati.

Seiring waktu, langkah hidupnya mulai berpindah-pindah mengikuti perjalanan orang tuanya. Ia mengenal dunia lebih luas melalui Belakang Padang, Tanjung Batu, hingga Tanjungpinang. Di setiap tempat, ia tidak hanya berpindah sekolah, tetapi juga belajar beradaptasi, memahami perbedaan, dan menguatkan diri.

Dari perpindahan itu, ia menyadari satu hal penting: kehidupan mungkin tidak selalu memberi kenyamanan, tetapi selalu menghadirkan pelajaran.

Tahun 1987 menjadi titik awal yang diam-diam mengubah arah hidupnya. Ia terpilih sebagai anggota Paskibraka utusan daerah. Di bawah terik matahari dan disiplin yang ketat, Irwanto muda belajar tentang tanggung jawab, keteguhan, dan cinta tanah air. Barisan langkah yang seragam tidak hanya membentuk fisiknya, tetapi juga meneguhkan jiwanya.

Sejak saat itu, ia mulai bermimpi. Seperti banyak anak muda lainnya, Irwanto pernah menggantungkan cita-cita tinggi: menjadi bagian dari militer. Ia mengikuti seleksi AKABRI pada tahun 1989. Namun, kenyataan berkata lain ia gagal.

Kegagalan itu terasa pahit. Mimpi yang dibangun harus runtuh dalam sekejap. Namun hidup tidak memberi waktu lama untuk terpuruk. Ia harus bangkit.

Dengan langkah berat namun tekad yang belum padam, ia kembali ke Pekanbaru. Tahun 1991 hingga 1992 menjadi masa yang keras dalam hidupnya. Ia bekerja apa saja yang bisa dikerjakan di bengkel, di hotel—tanpa gengsi, tanpa keluhan. Yang ia pegang hanya satu: membantu orang tua dan bertahan hidup.

Di tengah peluh dan lelah, ia mulai memahami makna sejati dari perjuangan. Bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang paling kuat bertahan.

Dan keyakinan itu tidak pernah padam. Tahun 1992 menjadi titik balik hidupnya. Ia diterima sebagai pegawai imigrasi dengan penempatan pertama di Belakang Padang tanah yang pernah membesarkannya. Sebuah awal sederhana yang menjadi gerbang pengabdian panjang kepada negara.

Sebagai pegawai muda, ia memulai dari nol. Belajar, beradaptasi, dan menghadapi berbagai tantangan yang perlahan membentuk dirinya menjadi sosok tangguh di bidang keimigrasian.

Kesempatan besar datang ketika ia dipercaya bertugas di luar negeri, di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia pada tahun 1996–1997. Pengalaman itu membuka cakrawala baru dalam hidupnya. Ia kembali ke tanah air pada tahun 1999 dengan semangat dan perspektif yang lebih luas.

Di tengah perjalanan hidupnya, ia menemukan sandaran. Ia menikah dengan Heriyani Witiyastuty, sosok perempuan setia yang mendampinginya dalam setiap fase kehidupan. Dari pernikahan itu lahir tiga orang anak: Fikri Herwan Firdaus, Fadial Vania Putri, dan Fadli Herwan Saputra.

Bagi Irwanto, keluarga adalah sumber kekuatan tempat ia kembali, dan alasan ia terus melangkah.

Perjalanan kariernya pun tidak selalu mulus. Ia harus menghadapi ujian berat ketika mengikuti tes teknis keimigrasian hingga enam kali. Enam kali mencoba, enam kali pula menghadapi kemungkinan gagal.

Namun ia tidak menyerah. Hingga akhirnya, pada percobaan keenam, ia dinyatakan lulus. Tahun 2001 menjadi awal karier teknisnya buah dari kesabaran panjang dan keteguhan hati.

Penempatan di Tanjung Uban menjadi fase pembuktian. Ia berhadapan langsung dengan berbagai kasus serius seperti perdagangan manusia, tenaga kerja ilegal, hingga pemalsuan paspor. Di situlah ia memilih berdiri di garis depan.

Perjalanan pengabdiannya tidak hanya diwarnai oleh jabatan dan tanggung jawab, tetapi juga oleh dinamika penugasan yang terus berpindah. Selama masa pengabdiannya, Irwanto Suhaili telah menjalani 14 kali mutasi di berbagai wilayah dan satuan kerja.

Bagi sebagian orang, mutasi mungkin terasa sebagai beban. Namun bagi Irwanto, setiap perpindahan adalah ruang belajar baru. Ia harus kembali beradaptasi, memahami lingkungan yang berbeda, serta menghadapi tantangan yang tidak pernah sama.

Dari pulau kecil hingga kota besar, dari garis terdepan pelayanan hingga posisi strategis, setiap penugasan dijalaninya dengan semangat yang sama: bekerja dengan integritas, melayani dengan hati, dan menjaga marwah institusi.

Empat belas kali berpindah bukanlah perjalanan yang ringan. Ia harus meninggalkan zona nyaman, berpisah sementara dengan keluarga, dan memulai dari awal di tempat yang baru. Namun justru dari situlah lahir keteguhan bahwa pengabdian sejati tidak ditentukan oleh tempat, melainkan oleh kesediaan untuk memberi yang terbaik di mana pun ditugaskan.

Kariernya terus berkembang. Tahun 2005 ia dipercaya menjadi Kasubsi di Ranai, lalu tahun 2008 menjabat Kepala Seksi Wasdakim di Tanjung Balai Karimun hingga 2012.

Tahun 2012, ia bertugas di Batam wilayah strategis perlintasan internasional. Ia memimpin di pelabuhan penting seperti Sekupang dan Batam Center, menghadapi tantangan kejahatan lintas negara dan pelanggaran keimigrasian.

Ia pernah menangani penolakan terhadap warga negara asing yang tidak menghormati Indonesia, serta terlibat dalam pengungkapan kasus pembobolan ATM lintas negara bersama Mabes Polri.

Tahun 2014, ia dipercaya menjadi Kepala Seksi Deportasi di Direktorat, menangani kasus-kasus besar seperti cyber crime dan illegal fishing. Dua tahun kemudian, ia menjabat Kepala Bidang di Rumah Detensi Imigrasi, mengelola ribuan pengungsi dengan pendekatan tegas namun tetap humanis.

Periode 2017–2019, ia kembali ke Batam sebagai Kabid Informasi (Humas). Hingga akhirnya, pada 2019–2021, ia mencapai puncak karier sebagai Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Tanjungpinang. Tahun 2022, ia menjabat Kepala Imigrasi Tembilahan selama 9 bulan.

Di masa kepemimpinannya, dunia dilanda pandemi COVID-19. Dalam situasi penuh ketidakpastian, ia tetap berdiri di garis depan, memastikan pelayanan tetap berjalan dan organisasi tetap kuat.

Perjalanan panjang itu berakhir pada tahun 2023 ketika ia bertugas di Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Kepulauan Riau sebagai Kepala Bidang Intelijen dan Kepatuhan Internal, hingga akhirnya memasuki masa purna tugas pada tahun 2026 di Batam.

Hampir sebelas tahun ia mengabdi di jabatan eselon III. Dari golongan IIA hingga mencapai IVC, dengan penghormatan pangkat setara Brigadir Jenderal di akhir masa tugasnya.

Namun bagi Irwanto, semua itu bukanlah tujuan utama. Ia hanyalah seorang anak yang dibesarkan di Belakang Padang. Anak dari keluarga sederhana. Seorang pemuda yang pernah bekerja di bengkel dan hotel demi bertahan hidup.

Dan kini, ia berdiri sebagai seseorang yang telah melewati panjangnya perjalanan hidup.

Dengan segala kerendahan hati, ia menundukkan kepala, bersyukur kepada Allah SWT atas setiap langkah yang telah dilalui.

Karena pada akhirnya, ia memahami satu hal sederhana:

Keberhasilan bukan tentang seberapa tinggi kita berdiri, tetapi tentang seberapa kuat kita bangkit dari titik terendah dan tetap melangkah dengan keyakinan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *