BGN Instruksikan Guru Ikut Santap MBG Bersama Siswa, Makanan Lewat Batas Waktu Dilarang Dikonsumsi

Murid SD Negeri 004 Belakang Padang, Kota Batam saat menikmati makanan bergizi gratis beberapa waktu lalu

Jakarta | Badan Gizi Nasional (BGN) menginstruksikan para guru untuk ikut menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) bersama siswa di sekolah.

Langkah tersebut dilakukan bukan sekadar untuk membangun kebersamaan antara guru dan siswa, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG.

Bacaan Lainnya

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, keterlibatan guru juga dapat menjadi sarana edukasi bagi siswa. Ruang kelas tidak hanya digunakan sebagai tempat belajar, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mengajarkan adab makan, kedisiplinan saat mengantre, hingga menjaga kebersihan.

“BGN menginstruksikan Bapak/Ibu Guru ikut menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) bersama para siswa di sekolah. Ruang kelas harus menjadi ajang edukasi adab, kedisiplinan antre, dan kebersihan,” kata Sudaryono melalui akun Instagram pribadinya @sudaru_sudaryono, Senin (10/8/2026).

Menurut Sudaryono, guru memiliki peran penting dalam memastikan makanan yang diterima siswa dalam kondisi layak konsumsi. Karena itu, guru diminta ikut mencicipi makanan sebelum dibagikan kepada para siswa.

“Lebih dari itu, guru adalah penguji organoleptik terakhir. Jika makanan dirasa tidak layak, wajib hukumnya tidak dibagikan ke siswa,” tegasnya.

Ompreng MBG Akan Diberi Label Batas Waktu Konsumsi

Selain melibatkan guru dalam pengawasan, BGN juga akan menerapkan ketentuan baru terkait batas waktu konsumsi makanan MBG.

Mulai pekan depan, setiap ompreng MBG akan dilengkapi label yang mencantumkan batas waktu makanan tersebut boleh dikonsumsi.

Sudaryono menegaskan, makanan yang telah melewati batas waktu konsumsi tidak boleh lagi diberikan kepada siswa. Kebijakan tersebut menjadi salah satu langkah pencegahan terhadap risiko keracunan makanan.

“Jika waktu sudah terlewat, makanan haram untuk dikonsumsi, ini tahap awal mencegah keracunan,” ujarnya.

Lauk MBG Dilarang Dibawa Pulang

Sudaryono juga mengingatkan adanya kebiasaan sejumlah siswa yang tidak langsung mengonsumsi lauk MBG, seperti telur atau ayam, karena ingin membawanya pulang untuk diberikan kepada keluarga.

Menurutnya, niat tersebut memang baik. Namun, makanan MBG tidak diperbolehkan dibawa pulang karena terdapat risiko penurunan kualitas makanan setelah melewati waktu yang telah ditentukan.

“Banyak anak-anak kita yang saking baik hatinya, rela tidak memakan lauk telur atau ayam demi dibungkus dan dibawa pulang. Namun, sesuai petunjuk teknis keamanan pangan, makanan MBG dilarang dibawa pulang karena rentan menurun kualitas gizinya. Bahkan, amit-amit, bisa memicu keracunan,” tegas Sudaryono.

Karena itu, guru juga diminta memberikan pemahaman kepada siswa maupun orang tua mengenai pentingnya mengikuti ketentuan keamanan pangan dalam program MBG.

Sudaryono menekankan, niat baik untuk membawa makanan pulang harus tetap disertai dengan pemahaman mengenai risiko kesehatan apabila makanan dikonsumsi setelah melewati batas waktu aman.

“Saya minta guru berikan edukasi kepada orang tuanya mengenai bahaya mengonsumsi makanan yang sudah lewat batas waktu. Niat yang baik harus dibarengi dengan prosedur keselamatan yang benar,” pungkasnya.

 

Editor : Aken

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *