posmetrobatam.co.id | Memasuki hari ke-10 Ramadan 1447 Hijriah, kita berada di ambang peralihan dari fase rahmat menuju fase maghfirah (ampunan). Sepuluh hari pertama telah kita lalui dengan segala ikhtiar dan kekurangan. Kini saatnya kita bertanya dengan jujur pada diri sendiri: sudahkah Ramadan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih lembut, dan lebih dekat kepada Allah SWT?
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan puasa adalah takwa. Takwa bukan sekadar takut, tetapi kesadaran penuh bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui. Maka, jika sepuluh hari ini kita masih mudah marah, masih lalai dalam shalat, atau ringan lisan menyakiti orang lain, berarti kita harus memperbaiki kualitas puasa kita.
Allah SWT juga mengingatkan tentang luasnya ampunan-Nya:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini menjadi pelipur hati bagi siapa saja yang merasa banyak dosa. Ramadan adalah momentum terbaik untuk kembali. Tidak ada dosa yang terlalu besar bagi ampunan Allah, selama kita mau bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah janji agung itu. Namun syaratnya jelas: iman dan ihtisab keikhlasan dan pengharapan hanya kepada Allah.
Puasa juga melatih kita menjaga lisan dan akhlak. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menegaskan bahwa esensi puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari dosa lisan dan perbuatan.
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ
“Puasa adalah perisai. Maka apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah berkata kotor dan jangan berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’
(HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa indah ajaran ini. Puasa mengajarkan pengendalian diri. Bukan membalas keburukan dengan keburukan, tetapi menahannya dengan kesabaran.
Allah SWT juga berfirman tentang keutamaan sabar:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”
(QS. Az-Zumar: 10)
Ramadan adalah ladang kesabaran. Sabar menahan lapar, sabar menahan amarah, sabar dalam ketaatan. Dan balasannya tidak terhitung.
Di hari ke-10 ini, mari kita jadikan momen muhasabah. Perbaiki shalat kita, perbanyak tilawah, hidupkan malam dengan qiyam, dan ringankan tangan untuk bersedekah. Jangan biarkan Ramadan berlalu tanpa perubahan nyata dalam diri kita.
Kita tidak tahu apakah Ramadan tahun depan masih kita jumpai. Maka, jadikan hari ke-10 Ramadan 1447 H ini sebagai titik balik. Perbarui niat, kuatkan tekad, dan mohonlah kepada Allah agar kita termasuk hamba-hamba yang mendapatkan rahmat di awalnya, ampunan di pertengahannya, dan pembebasan dari api neraka di akhirnya.
Semoga Allah menerima puasa kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan mempertemukan kita dengan malam Lailatul Qadar dalam keadaan iman yang kokoh dan hati yang bersih. Aamiin.





