Kultum Hari ke-23 Ramadan 1447 H: Menjemput Kemuliaan di Sepuluh Malam Terakhir

Rangga Gautama, Alumni Pondok Pesantren Babussalam Tahun'94, Pekanbaru.

posmetrobatam.co.id | Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Ketika memasuki hari ke-23 Ramadan 1447 H, kita telah berada di penghujung perjalanan spiritual yang sangat berharga, yaitu sepuluh malam terakhir Ramadan. Inilah masa yang paling istimewa, masa di mana umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah, memperbanyak doa, memperdalam taubat, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan penuh kesungguhan.

Rasulullah SAW memberikan teladan luar biasa dalam menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan. Beliau memperbanyak ibadah, menghidupkan malam dengan shalat, zikir, dan membaca Al-Qur’an. Bahkan beliau membangunkan keluarganya agar bersama-sama meraih keberkahan malam yang agung tersebut.

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ مِئْزَرَهُ

Artinya:
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah SAW menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya sepuluh malam terakhir Ramadan. Jika pada malam-malam sebelumnya kita mungkin masih lalai atau kurang maksimal dalam beribadah, maka pada saat inilah kesempatan besar untuk memperbaiki diri.

Salah satu keistimewaan terbesar dalam sepuluh malam terakhir adalah Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Malam yang penuh keberkahan, malam ketika para malaikat turun membawa rahmat dan ketenangan bagi hamba-hamba Allah yang beribadah.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۝ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya:
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”
(QS. Al-Qadr: 1–3)

Seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun ibadah. Artinya, seseorang yang beribadah dengan penuh keimanan pada malam Lailatul Qadar akan mendapatkan pahala yang nilainya seperti beribadah selama puluhan tahun.

Oleh karena itu, para ulama menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak amal ibadah pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan, seperti malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29. Malam ke-23 yang kita jalani saat ini termasuk salah satu malam yang sangat mungkin menjadi malam Lailatul Qadar.

Dalam Al-Qur’an Allah juga mengingatkan manusia agar memanfaatkan waktu dan kesempatan sebelum datangnya penyesalan. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا

Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.”
(QS. At-Tahrim: 8)

Ayat ini mengajarkan bahwa Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperbaiki diri. Taubat yang tulus bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi juga dibuktikan dengan perubahan sikap dan perilaku menuju kebaikan.

Selain memperbanyak ibadah malam, Rasulullah SAW juga mengajarkan umatnya untuk memperbanyak doa pada malam-malam terakhir Ramadan, khususnya doa yang diriwayatkan oleh Aisyah RA ketika beliau bertanya kepada Rasulullah tentang doa yang sebaiknya dibaca jika bertemu Lailatul Qadar.

Rasulullah SAW bersabda:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Artinya:
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
(HR. Tirmidzi)

Doa ini sangat pendek namun memiliki makna yang sangat dalam. Kita memohon kepada Allah agar dosa-dosa kita dihapuskan, kesalahan kita diampuni, dan kehidupan kita dipenuhi dengan rahmat serta keberkahan.

Hari ke-23 Ramadan seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk meningkatkan kualitas ibadah, bukan justru menurunkan semangat. Jangan sampai di awal Ramadan kita begitu bersemangat, tetapi di akhir Ramadan justru kita menjadi lalai.

Mari kita hidupkan malam-malam ini dengan berbagai amal kebaikan:

  • memperbanyak shalat malam (qiyamul lail),
  • membaca dan mentadabburi Al-Qur’an,
  • memperbanyak istighfar dan doa,
  • bersedekah kepada yang membutuhkan,
  • serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Semoga dengan kesungguhan kita di malam-malam yang mulia ini, Allah SWT memberikan kepada kita kesempatan untuk bertemu dengan Lailatul Qadar, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang kembali dalam keadaan suci ketika Ramadan berakhir.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya:
Barang siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadan ini, memberikan kita kekuatan untuk memaksimalkan sepuluh malam terakhir, serta mempertemukan kita dengan kemuliaan Lailatul Qadar.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *