Kultum Hari ke-4 Ramadan 1447 H : “Menjaga Lisan, Menjernihkan Hati di Bulan Suci”

Rangga Gautama (Alumni Pondok Pesanten Babussalam '94, Pekanbaru)

posmetrobatam.co.id | Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang masih memberikan kita nikmat iman, nikmat kesehatan, dan kesempatan untuk menikmati hari ke-4 Ramadan 1447 Hijriah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Memasuki hari ke-4 Ramadan, mari kita sejenak bermuhasabah. Apakah puasa kita semakin membaik dari hari ke hari? Ataukah masih sebatas menahan lapar dan dahaga saja?

Karena sejatinya, puasa bukan hanya ibadah fisik, tetapi ibadah hati dan akhlak.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan akhir dari puasa adalah takwa. Dan takwa itu terlihat dari bagaimana kita menjaga diri terutama menjaga lisan.

Di antara anggota tubuh yang paling ringan bergerak namun paling berat pertanggungjawabannya adalah lisan. Betapa banyak pahala yang gugur hanya karena satu kalimat. Betapa banyak persaudaraan yang retak karena satu ucapan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
(رواه البخاري)

Artinya:
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)

Hadis ini menjadi peringatan keras bagi kita. Puasa yang tidak diiringi penjagaan lisan bisa kehilangan nilai di sisi Allah.

Beliau juga bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ، فَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ
(متفق عليه)

Artinya:
“Puasa adalah perisai. Maka apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan jangan berbuat bodoh. Jika ada seseorang yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, maka hendaklah ia mengatakan: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Di era sekarang, menjaga lisan bukan hanya soal ucapan, tetapi juga tulisan. Apa yang kita kirim di grup, apa yang kita komentari di media sosial, semuanya tercatat. Ramadan mengajarkan kita untuk berpikir sebelum berbicara, menimbang sebelum menulis.

Hari ke-4 ini menjadi momentum untuk memperbaiki diri. Sudahkah kita mengurangi ghibah? Sudahkah kita lebih lembut kepada keluarga di rumah? Sudahkah kita menahan emosi ketika lelah dan lapar?

Ramadan adalah madrasah hati. Ia melatih kita untuk sabar ketika diuji, tenang ketika dipancing amarah, dan peduli ketika melihat penderitaan orang lain. Ketika kita merasakan haus di siang hari, kita belajar empati terhadap mereka yang kekurangan.

Jika lisan terjaga, hati akan bersih. Jika hati bersih, ibadah akan terasa manis. Tilawah menjadi lebih khusyuk, doa lebih tulus, dan sedekah lebih ikhlas.

Jangan biarkan Ramadan berlalu tanpa perubahan. Mungkin hari ini kita mulai dengan memperbanyak istighfar. Mungkin hari ini kita memaafkan orang yang pernah menyakiti kita. Mungkin hari ini kita bertekad untuk lebih berhati-hati dalam berbicara.

Semoga Allah menjadikan puasa kita puasa yang bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan amarah, menahan dusta, dan menahan segala keburukan.

Ya Allah, jadikan Ramadan 1447 H ini sebagai Ramadan terbaik dalam hidup kami. Bersihkan hati kami, lembutkan lisan kami, dan istiqamahkan langkah kami dalam ketaatan.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *