posmetrobatam.co.id | Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah Swt. yang masih mempertemukan kita dengan hari ke-9 Ramadan 1447 H. Sembilan hari telah kita lalui. Sembilan hari penuh perjuangan menahan lapar dan dahaga, menahan amarah, menjaga lisan, serta menundukkan hawa nafsu. Jika diibaratkan perjalanan, maka kita kini berada di pertengahan awal perjalanan panjang menuju kemuliaan Ramadan.
Pada kultum hari ke-9 Ramadan 1447 H ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah puasa kita sudah mulai berbuah takwa? Apakah hati kita semakin lembut? Apakah ibadah kita semakin khusyuk? Karena Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi madrasah ruhani yang membentuk jiwa.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah takwa. Takwa bukan sekadar takut, tetapi kesadaran penuh bahwa Allah selalu melihat kita. Di hari ke-9 ini, mari kita evaluasi: apakah puasa kita hanya menahan lapar, atau sudah sampai pada menahan hati dari iri, dengki, dan sombong?
Rasulullah saw. juga mengingatkan tentang hakikat puasa. Dalam sebuah hadis beliau bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya yang hanya meninggalkan makan dan minum.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini seakan menjadi cermin di kultum hari ke-9 Ramadan 1447 H ini. Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi lisannya masih menyakiti. Betapa banyak yang menahan lapar, namun tangannya masih berbuat zalim. Puasa yang sejati adalah puasa yang mengubah akhlak.
Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Di hari kesembilan ini, sudahkah kita memperbanyak tilawah? Sudahkah kita merenungi maknanya? Allah berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Al-Qur’an adalah cahaya. Di tengah gelapnya kehidupan, ia adalah pelita. Jangan sampai sembilan hari berlalu tanpa kedekatan kita dengan Kalamullah. Jadikan hari ini sebagai titik balik untuk lebih mencintai Al-Qur’an membacanya, memahami, dan mengamalkannya.
Selain itu, Ramadan juga bulan kesabaran. Kesabaran menahan emosi, kesabaran dalam ketaatan, dan kesabaran menjauhi maksiat. Rasulullah saw. bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ
“Puasa adalah perisai.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Perisai dari apa? Dari api neraka. Dari dosa. Dari godaan setan. Maka pada hari ke-9 Ramadan 1447 H ini, mari kita kuatkan perisai itu. Jangan sampai ia retak oleh amarah, pecah oleh ghibah, atau hancur oleh kemalasan.
Perjalanan Ramadan masih panjang. Jangan sampai semangat kita hanya membara di awal lalu redup di tengah. Justru di sinilah ujian konsistensi. Orang-orang yang berhasil adalah mereka yang menjaga ritme ibadahnya hingga akhir.
Mari kita perbanyak doa di hari ke-9 ini. Karena Ramadan adalah bulan mustajabnya doa. Rasulullah saw. bersabda:
لِلصَّائِمِ دَعْوَةٌ لَا تُرَدُّ
“Bagi orang yang berpuasa ada doa yang tidak akan ditolak.”
(HR. Ibnu Majah)
Gunakan waktu menjelang berbuka untuk memohon ampunan. Mintalah agar Allah menerima puasa kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan mempertemukan kita dengan malam Lailatul Qadar.
Akhirnya, kultum hari ke-9 Ramadan 1447 H ini mengajak kita untuk menjaga nyala iman. Jangan biarkan ia padam oleh kelalaian. Jadikan setiap hari Ramadan sebagai langkah mendekat kepada Allah. Jika sembilan hari ini telah kita lalui, maka jadikan sisa hari-hari berikutnya lebih baik, lebih khusyuk, dan lebih bermakna.
Semoga Allah menerima puasa kita, menguatkan iman kita, dan menjadikan Ramadan tahun ini sebagai Ramadan terbaik dalam hidup kita.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.





