Rupiah Anjlok, Dunia Usaha Mulai Perketat Efisiensi

Jakarta | Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, mengungkapkan anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberikan tekanan terhadap dunia usaha. Kondisi ini mendorong para pelaku industri menyiapkan berbagai strategi untuk memitigasi dampaknya.

Melemahnya rupiah dinilai berdampak langsung pada kenaikan biaya produksi, terutama bagi industri yang masih bergantung pada bahan baku impor. Selain itu, tekanan kurs juga memengaruhi pembayaran kewajiban perusahaan berbasis dolar Amerika Serikat (AS) hingga keputusan investasi di berbagai sektor usaha.

Shinta mengatakan para pengusaha kini mulai memperkuat strategi manajemen risiko untuk menjaga stabilitas bisnis di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Dari sisi antisipasi, memperkuat strategi manajemen risiko lebih komprehensif. Penggunaan instrumen lindung nilai terhadap fluktuasi nilai tukar ditingkatkan, disertai penataan struktur utang agar lebih seimbang,” ungkap Shinta, Jumat (15/5/2025).

Selain memperkuat manajemen risiko keuangan, sejumlah perusahaan juga mulai melakukan efisiensi operasional. Fokus utama diarahkan pada pengendalian belanja modal dan optimalisasi modal kerja agar kondisi keuangan perusahaan tetap terjaga.

Menurut Shinta, langkah lain yang mulai ditempuh pelaku usaha adalah melakukan diversifikasi pemasok serta mendorong substitusi impor untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku dari luar negeri. Namun, ia mengakui kemampuan substitusi produk domestik saat ini masih terbatas di banyak sektor industri.

Shinta menilai dunia usaha sebenarnya masih memiliki ruang untuk beradaptasi. Akan tetapi, tekanan eksternal yang cukup besar membuat kemampuan penyesuaian bisnis belum berjalan optimal.

Karena itu, Apindo menekankan pentingnya koordinasi kebijakan antara pemerintah, otoritas moneter, dan sektor riil guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Dalam situasi tekanan eksternal cukup kuat dan ruang pelonggaran kebijakan relatif terbatas, sinergi antara kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil menjadi sangat krusial,” pungkas Shinta.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot exchange pada Jumat (15/5/2026) melemah 67 poin atau 0,39% ke level Rp 17.596 per dolar AS.

 

Pewarta : Mhd. Sofyan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *