Batam | Keluhan warga Perumahan Buana Poin, Sagulung, terkait bau menyengat yang diduga berasal dari limbah dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai mendapat perhatian pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Pengelola mengakui adanya gangguan pada sistem pengolahan limbah setelah ditemukan pipa menuju instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dalam kondisi terlepas. Akibatnya, air limbah diduga mengalir ke saluran drainase di belakang permukiman warga.
Ketua Koordinator Sub Penyelenggara SPPG Kota Batam, Defri Frenaldi, mengatakan dua dapur SPPG yang berada di kawasan tersebut sebenarnya telah dilengkapi fasilitas IPAL. Namun, pihaknya tetap akan melakukan pengecekan untuk memastikan sistem pengolahan limbah berjalan sesuai standar.
“Kalau berfungsi, minimal hasilnya jernih walaupun masih ada bau. Saya juga sudah mengarahkan koordinator Kecamatan Sagulung untuk melakukan pengecekan,” ujar Defri, Jumat (31/7).
Menurut Defri, pihaknya akan memanggil dan meminta laporan dari kepala SPPG yang berada di lokasi tersebut. Berdasarkan data resmi SPPG, dua dapur yang dikeluhkan warga merupakan SPPG Kota Batam Sagulung Sungai Langkai 2 dan Sungai Langkai 3.
Sementara itu, salah satu kepala dapur SPPG, Emanuel, mengakui adanya persoalan pada saluran menuju bak IPAL. Ia mengatakan hasil pemeriksaan menemukan pipa yang mengarah ke instalasi pengolahan limbah terlepas sehingga air limbah mengalir ke selokan.
“Yang kami tidak sadari ternyata ada bagian pipa yang terlepas di belakang. Kami memperkirakan masalah ini baru terjadi dua sampai tiga hari terakhir,” kata Emanuel.
Ia menjelaskan, limbah dari aktivitas dapur seharusnya melewati grease trap terlebih dahulu sebelum masuk ke IPAL. Alat tersebut berfungsi menyaring lemak, minyak, serta sisa padatan sebelum proses pengolahan berikutnya.
“Dulu sebelum ada grease trap, limbah sempat meluap sampai ke depan,” ujarnya.
Namun, pernyataan pengelola mengenai waktu terjadinya kebocoran berbeda dengan keterangan warga. Sejumlah warga Buana Poin mengaku bau tidak sedap sudah muncul hampir setiap hari dalam beberapa bulan terakhir.
Salah seorang warga, Indra, sebelumnya menyebut aroma limbah cukup mengganggu aktivitas masyarakat. Selain bau menyengat, warga juga menemukan endapan sisa makanan seperti nasi, sayuran, wortel, hingga potongan daging di sekitar saluran drainase.
Ketua RT setempat, Moh Zaeni, juga menduga sistem pengolahan limbah yang tersedia belum bekerja maksimal. Ia menilai kapasitas saluran pembuangan perlu dievaluasi karena aktivitas dapur menghasilkan limbah dalam jumlah besar setiap hari.
Menurut Emanuel, pihaknya akan melakukan pembersihan saluran dan berkoordinasi dengan pengelola wilayah untuk menentukan langkah perbaikan berikutnya.
“Kami akan lebih rutin melakukan pengecekan agar kejadian seperti ini tidak terulang,” katanya.
Koordinator SPPG lainnya, Eliza, mengatakan pihaknya rutin membersihkan saluran limbah satu hingga dua kali dalam sepekan. Pembersihan berikutnya akan dilakukan setelah proses distribusi makanan MBG selesai.
Ia menjelaskan, sistem IPAL yang digunakan berada di lokasi yang sama dengan dapur sebelah, namun masing-masing memiliki jalur saluran berbeda.
“Air yang mengalir itu merupakan air bekas pencucian wadah makanan atau ompreng. Sekarang sudah ada IPAL,” ujarnya.
Pengelola SPPG memastikan akan melakukan evaluasi terhadap sistem pengolahan limbah agar operasional dapur MBG tetap berjalan tanpa mengganggu lingkungan sekitar.
Editor : Aken





