Batam | Sebanyak lima Warga Negara Indonesia (WNI) asal Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terancam tertahan lebih lama di penjara imigrasi Takeo, Kamboja. Meski pengurusan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) sebagai dokumen pemulangan tengah berproses, mereka terganjal ketidakmampuan membeli tiket pesawat untuk pulang ke tanah air.
Kelima warga Kepri tersebut adalah Safrudin, Diki Setiawan, Romi Adeka Putra, Mosahraaf, dan Ariyono. Mereka tergabung dalam rombongan sekitar 50 WNI dari berbagai wilayah seperti Medan, Manado, dan Jakarta yang kini mendekam di sel penahanan yang sama selama rata-rata lima bulan.
Ariyono, salah satu WNI asal Kepri, mengonfirmasi bahwa kendala utama proses pemulangan mereka murni terletak pada masalah finansial, bukan lagi pada dokumen keimigrasian.
“Ditahan karena kan semua WNA mau dipulangkan, Bang. Jadi kami yang enggak ada paspor ditangkap dan ditahan di sini sambil menunggu pengurusan SPLP, Bang. Kendalanya di uang tiket,” ujar Ariyono saat dikonfirmasi dari Batam, Senin (2/11/2026).
Penahanan puluhan WNI ini bermula dari kebijakan penertiban WNA oleh otoritas Kamboja. Karena tidak memegang paspor resmi, mereka diamankan ke penjara imigrasi Takeo. Safrudin, warga Kepri lainnya yang berada di lokasi penahanan, menceritakan sesaknya kondisi sel yang dihuni puluhan orang tersebut.
“Satu ruangan ini mau 50 orang, Bang. Beda-beda, ada dari Medan, Manado, Jakarta,” ungkap Safrudin.
Sebelum terjaring razia keimigrasian, para WNI ini mengadu nasib di pelbagai sektor informal seperti pegawai restoran hingga pekerja lepas (tangkur-tangkur). Sebagian di antaranya nekat melarikan diri dari tempat kerja karena perlakuan yang tidak adil, sebelum akhirnya ditangkap petugas setempat di luar kawasan kerja.
Karena berasal dari keluarga kurang mampu dan belum mendapatkan bantuan langsung dari perwakilan diplomasi Indonesia di Kamboja, Safrudin dan keempat rekannya sesama warga Kepri sangat berharap Pemprov Kepri maupun Pemerintah Pusat turun tangan menanggulangi biaya tiket penerbangan mereka.
“Harapan kami bisa dibantu lah, Bang, untuk pemulangannya, karena kami semua dari keluarga yang tidak mampu,” kata Safrudin.





