Belakang Padang | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan makanan sehat dan higienis bagi anak-anak sekolah di wilayah pulau penyangga. Kini, program tersebut telah menjangkau 1.938 pelajar di Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam, Kepulauan Riau.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Belakangpadang, Ahmad Jufri, mengatakan dapur MBG di wilayah tersebut mulai beroperasi tiga pekan lalu dan menjadi dapur pertama di wilayah hinterland.
“Walaupun berada di wilayah kepulauan, kami tetap menggunakan standar yang diterapkan oleh BGn (Batam Gizi Nusantara). Semua proses, mulai dari bahan baku, pengolahan, hingga distribusi makanan, kami pastikan sesuai standar,” ujarnya.
Berbeda dengan dapur MBG di daratan utama Batam, seluruh proses produksi hingga distribusi makanan di Belakang Padang dilakukan langsung di pulau. Tidak ada pengantaran dari daratan.
“Kegiatan memasak dimulai sejak dini hari dengan tiga sesi produksi dan tiga kali pengantaran yang disesuaikan dengan jadwal sekolah. Makanan harus dikonsumsi maksimal tiga jam setelah dimasak, jadi kami benar-benar disiplin soal waktu,” jelasnya.
Selain ketepatan waktu, pengawasan kebersihan dan higienitas menjadi prioritas utama. Kondisi geografis pulau menuntut kehati-hatian ekstra dalam menjaga kualitas makanan.
“Dapur dan tempat pencucian ompreng kami pisahkan agar lebih steril. Kami juga baru membangun fasilitas pencucian ompreng baru dengan dukungan mitra, sehingga risiko kontaminasi silang bisa dihindari,” paparnya, Rabu (15/10)
Dalam hal pengelolaan limbah, SPPG Belakang Padang telah melengkapi fasilitas dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) berlapis tiga saringan.
“Pembuangan kami sudah menggunakan sistem IPAL tiga saringan. Jadi limbah tidak langsung dibuang, melainkan disaring tiga kali. Air yang keluar dari pembuangan sudah dalam kondisi bersih,” terangnya.
Tak hanya itu, pihaknya juga menjalin kerja sama dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan para peternak lokal.
“Sisa makanan langsung diambil oleh peternak dan pihak TPA, sehingga tidak menumpuk di lokasi dapur,” tambahnya.
Menariknya, hampir seluruh relawan yang bertugas di dapur MBG Belakangpadang merupakan warga asli setempat, sebagian besar di antaranya adalah orang tua dari anak-anak penerima manfaat.
“Sekitar 99 persen relawan adalah warga lokal. Mereka memasak untuk anak-anak mereka sendiri, jadi rasa tanggung jawab dan kehati-hatian itu tumbuh secara alami,” tutur Ahmad.
Ke depan, SPPG Belakang Padang tengah menyiapkan Sertifikat Laik Higienis Sanitasi (SLHS) agar seluruh proses produksi makanan benar-benar sesuai standar kesehatan dan keselamatan pangan.
“Kami targetkan SLHS ini bisa keluar bulan ini. Dengan begitu, dapur MBG Belakang Padang bisa menjadi contoh dapur higienis di wilayah kepulauan,” pungkasnya.





