Menapaki Jejak Dakwah di Pulau Tolop, Kepala Imigrasi Belakang Padang Tedy Wibisono Ziarahi Maqam Ulama Penuh Makna

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belakang Padang, Tedy Wibisono.

Belakang Padang | Di balik rimbunnya pepohonan dan suasana alami yang menenangkan, Pulau Tolop menyimpan jejak sejarah panjang yang tak lekang oleh waktu. Tangga-tangga batu yang menanjak perlahan membawa setiap langkah menuju sebuah kawasan sakral, ditandai dengan papan kayu bertuliskan “Sunan Thulub”. Di sanalah, suasana hening berpadu dengan nuansa spiritual, menghadirkan ruang refleksi tentang perjalanan dakwah Islam di wilayah hinterland Kota Batam.

Pada Jumat (24/4), Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belakang Padang, Tedy Wibisono, menapaki langsung jalur tersebut dalam kunjungan silaturahmi sekaligus ziarah ke Pulau Tolop. Kunjungan ini menjadi langkah awal yang sarat makna sejak dirinya dipercaya mengemban amanah sebagai pimpinan di wilayah perbatasan tersebut.

Bagi masyarakat Belakang Padang, Pulau Tolop bukan sekadar pulau kecil yang tenang. Ia adalah ruang sejarah, tempat bersemayamnya para ulama yang dahulu menyebarkan ajaran Islam di pesisir Kepulauan Riau. Nama Sunan Thulub yang terukir pada papan kayu menjadi simbol dari jejak dakwah yang terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.

Setiap menjelang bulan suci Ramadhan, pulau ini kerap dipadati peziarah. Mereka datang dari berbagai penjuru, membawa doa, harapan, serta kerinduan untuk mengenang perjuangan para ulama. Tradisi ziarah ini bukan hanya ritual, melainkan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam kunjungannya, Tedy Wibisono tampak khidmat saat berada di area maqam. Ia tidak hanya hadir sebagai pejabat, tetapi juga sebagai pribadi yang menghargai nilai sejarah dan spiritualitas. Baginya, Pulau Tolop memiliki makna lebih dari sekadar destinasi religi.

“Pulau Tolop ini bukan hanya tentang makam para ulama, tetapi tentang sejarah panjang dakwah Islam. Ini aset berharga yang harus kita jaga bersama,” ungkapnya.

Ia menilai, potensi Pulau Tolop sebagai destinasi wisata religi sangat besar jika dikelola dengan baik. Keindahan alam yang masih asri, dipadukan dengan kekuatan nilai sejarah dan spiritual, menjadikan pulau ini memiliki daya tarik tersendiri, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Lebih dari itu, Tedy juga melihat Pulau Tolop sebagai representasi kearifan lokal masyarakat pesisir yang patut dilestarikan. Nilai-nilai kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, serta semangat religius yang hidup di tengah masyarakat menjadi kekuatan utama yang tidak dimiliki oleh banyak tempat lain.

Kegiatan ziarah ini sekaligus menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara Kantor Imigrasi dengan masyarakat Belakang Padang. Dalam suasana yang sederhana namun penuh makna, terjalin kedekatan yang mencerminkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat.

Tedy menegaskan komitmennya untuk hadir tidak hanya sebagai pemimpin dalam struktur birokrasi, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang ikut menjaga nilai-nilai sosial dan spiritual. Pendekatan ini menjadi penting, terutama di wilayah perbatasan yang memiliki karakteristik budaya dan sejarah yang kuat.

Langkah awal yang ia pilih melalui ziarah di Pulau Tolop mencerminkan gaya kepemimpinan yang humanis dan berakar pada nilai lokal. Sebuah pendekatan yang tidak hanya membangun sistem, tetapi juga membangun hubungan.

Dengan menapaki jejak dakwah di Pulau Tolop, Tedy Wibisono tidak sekadar memulai tugasnya sebagai Kepala Kantor Imigrasi. Ia juga menegaskan komitmen untuk menjaga warisan spiritual, memperkuat ikatan sosial, serta mengangkat potensi daerah yang kaya akan nilai sejarah dan keislaman.

Di pulau kecil yang sunyi itu, langkahnya menjadi simbol bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang kewenangan, tetapi juga tentang memahami, merawat, dan menghormati jejak yang telah lebih dahulu ditinggalkan.

 

Pewarta : M. Yusuf Suhaili

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *