Belakang Padang | Di tengah geliat pelestarian budaya lokal, sebuah motif batik bernama Batu Gajah mulai mencuri perhatian. Motif ini merupakan karya Rangga Gagak, seorang anak pulau yang menghadirkan sentuhan seni pesisir ke dalam kain batik bernilai tinggi.
Terinspirasi dari bentuk batu karang yang menyerupai sosok gajah, motif Batu Gajah menghadirkan visual yang kuat sekaligus artistik. Lekukan dan tekstur yang dituangkan pada kain batik tidak hanya menggambarkan keindahan alam pesisir, tetapi juga menyiratkan filosofi mendalam tentang kekuatan, keteguhan, dan ketenangan.

Berbeda dengan batik tradisional pakem dari Pulau Jawa yang cenderung memiliki pola berulang, motif Batu Gajah tampil dalam gaya batik lukis kontemporer. Setiap helai kain menjadi karya unik, dengan komposisi bebas yang menyerupai lukisan. Hal ini menjadikan batik tersebut tidak hanya sebagai busana, tetapi juga sebagai medium ekspresi seni.
Sebagai kreator, Rangga Gagak mengaku bahwa ide motif tersebut lahir dari kedekatannya dengan alam sekitar.
“Saya tinggal di lingkungan pulau, setiap hari melihat batu-batu karang dan laut. Dari situ muncul inspirasi untuk mengangkat bentuk yang mungkin sederhana, tapi punya makna kuat. Batu Gajah ini bagi saya melambangkan kekuatan dan ketenangan hidup masyarakat pesisir,” ujarnya, Senin (4/5).
Ia juga menambahkan bahwa proses pembuatan batik ini tidak sekadar teknik, tetapi juga rasa.
“Setiap goresan itu dibuat seperti melukis, jadi tidak ada yang benar-benar sama. Saya ingin setiap kain punya cerita, bukan sekadar motif,” kata Rangga Gagak.
Secara filosofis, gajah kerap dimaknai sebagai simbol kebijaksanaan dan kekuatan. Nilai tersebut sejalan dengan karakter masyarakat pesisir Belakang Padang yang hidup berdampingan dengan alam laut yang selalu tegar menghadapi gelombang, namun tetap tenang dan bersahaja dalam menjalani kehidupan.
Kehadiran motif Batu Gajah juga menjadi bukti bahwa batik tidak hanya berkembang di daerah-daerah yang telah lama dikenal sebagai sentra, tetapi juga tumbuh di wilayah kepulauan dengan identitasnya sendiri. Dengan mengangkat unsur lokal seperti batu karang, laut, dan lanskap pulau, batik dari Belakang Padang membawa warna baru dalam khazanah batik Nusantara.
Rangga Gagak berharap karyanya dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk lebih mencintai budaya lokal.
“Saya ingin batik dari Belakang Padang punya ciri khas sendiri dan dikenal lebih luas. Ini bukan hanya tentang kain, tapi tentang identitas kita sebagai anak pulau,” tutupnya.
Dengan kekuatan cerita dan keunikan visual yang dimilikinya, motif Batu Gajah berpotensi menjadi simbol baru kebanggaan budaya dari Belakang Padang mengukuhkan bahwa dari pulau kecil pun dapat lahir karya besar yang bernilai tinggi.
Pewarta : M.Yusuf Suhaili





