Belakang Padang | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini telah menjangkau 1.938 anak sekolah di wilayah pulau penyangga Belakangpadang, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri).
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pulau Belakangpadang, Ahmad Jufri, mengatakan dapur MBG di wilayah tersebut mulai beroperasi tiga pekan lalu.
“Ini merupakan dapur pertama di wilayah hinterland, dan kami melayani enam sekolah yang berada di pulau utama Belakangpadang,” ujarnya, Senin (13/10).
Berbeda dengan dapur MBG lain di daratan Batam, seluruh proses produksi hingga distribusi makanan dilakukan langsung di pulau. Tidak ada pengantaran dari daratan utama.
“Kegiatan memasak dimulai sejak dini hari dengan tiga sesi produksi dan tiga kali pengantaran yang disesuaikan dengan jadwal sekolah,” jelasnya.
Menurutnya, pengaturan waktu menjadi hal krusial. “Aturannya, makanan harus dikonsumsi maksimal tiga jam setelah dimasak. Jadi kami benar-benar disiplin soal waktu,” tambahnya.
Selain waktu, pengawasan higienitas dan kebersihan menjadi prioritas utama. Kondisi geografis pulau menuntut kehati-hatian ekstra dalam menjaga kualitas makanan.
“Satu kejadian saja bisa berdampak besar. Karena itu kami pastikan seluruh proses, mulai dari bahan baku, alat, hingga distribusi, sesuai standar higienis,” tegas Ahmad.
Menariknya, hampir seluruh relawan yang bertugas di dapur MBG Belakangpadang merupakan warga asli setempat, bahkan sebagian besar adalah orang tua dari anak-anak penerima manfaat.
“Sekitar 99 persen relawan adalah warga lokal. Mereka memasak untuk anak mereka sendiri. Jadi rasa tanggung jawab dan kehati-hatian itu muncul secara alami,” tutur Ahmad Jufri.
Ia menambahkan, saat ini SPPG Belakangpadang tengah melengkapi fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan sedang memproses Sertifikat Laik Higienis Sanitasi (SLHS).
“Kami sudah punya satu IPAL untuk fasilitas pencucian ompreng, dan satu lagi akan dibangun khusus untuk dapur produksi. Untuk SLHS, kami targetkan keluar bulan ini,” pungkasnya.





