Belakang Padang | Semangat kemerdekaan terasa kental di Kecamatan Belakang Padang pada 14–15 Agustus 2025. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, digelar Pertandingan Pentas Seni Pelajar yang memadukan lomba tari tradisional, nyanyi lagu nasional, dan atraksi hiburan, Kamis malam (14/8/2025)

Malam pagelaran diwarnai lomba Joget Ayam Didik dan Joget Anak Tiung yang diikuti 11 sekolah dari Belakang Padang. Sebanyak 120 peserta dari tingkat SD hingga SMA tampil memukau membawakan tarian khas Melayu yang sarat makna kebersamaan.
Bukan itu saja, pagelaran pentas seni juga dilanjutkan pada Jumat (15/8), lomba Menyanyi Lagu Nasional diikuti 115 peserta dari berbagai jenjang pendidikan. Lagu-lagu perjuangan seperti Indonesia Pusaka, Bangun Pemudi Pemuda, dan Maju Tak Gentar menggema, membangkitkan rasa cinta tanah air. Atraksi Pop YeYe Anak-Anak dengan 6 peserta turut menambah keceriaan acara.
Ketua Panitia Penyelenggara HUT ke 80 Kemerdekaan Republik Indonesia, Mexson Dody, S.STP, mengajak peserta menjaga sportivitas dan mengimbau penonton mematuhi aturan panitia. Ia berharap dukungan penuh pemerintah pusat dan daerah terus mengalir untuk perayaan HUT RI mendatang.
“Tahun ini ada rasionalisasi anggaran, semoga tahun depan tidak lagi, sehingga acara bisa lebih meriah,” ujarnya.
Ia menambahkan terselenggaranya kegiatan ini berkat dukungan dari masyarakat dan juga tokoh masyarakat, H. Hasim serta Salman.
Sementara itu, Dewan juri Wan Hilda menyampaikan apresiasinya kepada seluruh peserta. “Kami melihat banyak bakat luar biasa malam ini. Yang terpenting bukan hanya menang atau kalah, tetapi bagaimana kalian mencintai dan melestarikan seni budaya kita,” ujarnya.
Senada, dewan juri Izhar juga memberikan pesan penyemangat. “Jadikan pengalaman ini sebagai motivasi untuk terus berlatih. Seni tradisional adalah warisan yang harus kita jaga bersama, karena di sanalah identitas kita sebagai bangsa,” katanya.

Kemeriahan acara semakin terasa berkat pembawa acara Waya dan Adam, yang memandu jalannya pagelaran dengan gaya segar dan penuh canda. Keduanya piawai membangun suasana, memancing tawa penonton di sela-sela lomba, sekaligus menjaga ritme acara tetap dinamis. Interaksi spontan mereka dengan peserta membuat setiap penampilan terasa hangat dan dekat dengan penonton. Tidak jarang, sorakan dan tepuk tangan meriah terdengar setelah mereka melontarkan lelucon khas yang menghidupkan malam kesenian ini.
Pagelaran yang melibatkan seluruh panitia ini berlangsung lancar dengan dewan juri Wan Hilda, Izhar, dan Heri. Acara menjadi ajang mempererat silaturahmi, melestarikan budaya, serta menanamkan semangat kemerdekaan kepada generasi muda.





