Cahaya Biru di Gang Dingkis Lebam Masuk Jaring, Semangat Warga Sambut Ramadan 1447 H dalam Lomba Lampu Hias

Belakang Padang | Semarak menyambut bulan suci Ramadan 1447 H, suasana Kampung Tengah, RT 02/RW 02, Kecamatan Belakang Padang tampak berbeda dari biasanya. Sebuah gang sempit kini bermandikan cahaya. Deretan lampu LED berwarna biru membentuk lorong panjang bak terowongan cahaya, memikat siapa pun yang melintas untuk berhenti sejenak dan mengabadikan momen.

Sebagai penanggungjawab, Yusup Suhailly mengatakan, warga setempat bahu-membahu menyiapkan lampu hias untuk mengikuti ajang kompetisi lampu hias dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan 1447 H. Dengan penuh semangat, mereka menyulap gang yang panjangnya kurang lebih 50 meter itu menjadi ikon kecil penuh kehangatan dan kreativitas.

“Lampu hias Gang Dingkis ini kami rancang sedemikian rupa untuk meramaikan ajang perlombaan tahun ini. Walaupun gang kami sempit dan unik, justru di situlah tantangannya. Kami ingin menunjukkan bahwa keterbatasan ruang bukan halangan untuk berkarya,” ujar Yusup.

Lorong gang dibagi menjadi dua jalur menggunakan rangkaian paralon yang dibentuk melengkung menyerupai kubah terowongan. Di setiap lengkungan, lampu LED biru dipasang rapi mengikuti alur rangka, menciptakan efek visual seperti berjalan di bawah langit malam yang bercahaya. Di bagian atas, lampu rantai dan lampu jaring dirangkai dengan tarikan tali silang hingga ke penghujung gang, menghadirkan percikan warna-warni yang berpadu indah dengan dominasi cahaya biru.

Tak hanya itu, di salah satu sisi gang, hiasan lampu membentuk tulisan ucapan selamat menyambut Ramadan, mempertegas semangat kebersamaan warga dalam menyambut bulan penuh berkah. Kombinasi ornamen lampu LED, lampu rantai, lampu jaring, serta konstruksi paralon sederhana membuktikan bahwa kreativitas tidak selalu membutuhkan biaya besar, melainkan kekompakan dan niat tulus.

Keindahan ini tentu tidak tercipta begitu saja. Di balik gemerlap cahaya tersebut, ada kerja keras dan ide-ide kreatif dari para pemuda dan warga setempat. Nama-nama seperti Bedo, Sarep, Gondrong, dan Apek menjadi motor penggerak perencanaan dan pemasangan lampu hias di gang ini.

“Mereka inilah yang merencanakan dan menyusun konsep lampu hias di Gang Dingkis Lebam Masuk Jaring. Kami semua terlibat, tapi ide awal dan pengerjaan teknis banyak digagas oleh mereka,” tambah Yusup dengan bangga.

Proses pemasangan dilakukan secara gotong royong. Siang hari digunakan untuk memasang rangka dan instalasi kabel, sementara malam hari menjadi waktu uji coba pencahayaan. Tawa dan canda terdengar di sela-sela kesibukan, mencerminkan kekompakan warga yang menjadikan kegiatan ini bukan sekadar persiapan lomba, melainkan ajang mempererat silaturahmi.

Kini, setiap malam Ramadan, cahaya biru dari lengkungan lampu menciptakan nuansa damai dan syahdu. Gang yang dahulu mungkin hanya menjadi jalur lalu-lalang kini berubah menjadi ruang kebersamaan yang menyatukan hati.

Keikutsertaan Gang Dingkis Lebam Masuk Jaring dalam kompetisi lampu hias bukan semata-mata untuk mengejar juara. Lebih dari itu, ini adalah wujud semangat warga dalam menyambut Ramadan dengan penuh suka cita, memperindah lingkungan, serta mempererat rasa persaudaraan.

Di bawah cahaya lampu yang berpendar lembut, tersimpan harapan agar Ramadan tahun ini membawa keberkahan, kedamaian, dan kebersamaan yang semakin kuat bagi seluruh warga Kampung Tengah. Dari gang sempit yang unik, terpancar pesan sederhana: ketika hati bersatu, cahaya sekecil apa pun mampu menerangi sepanjang jalan.

 

Pewarta : M. Yusuf Suhaili

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *