Joget Lambak Meriahkan HUT ke-81 RI di Belakang Padang, Generasi Muda Diajak Lestarikan Budaya Melayu

Belakang Padang | Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam, semakin terasa. Salah satu rangkaian kegiatan yang mendapat perhatian masyarakat adalah pertandingan Joget Lambak yang digelar di Dataran Elang Laut, Jum’at (14/8/2026) malam.

Bacaan Lainnya

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 19.30 WIB tersebut menjadi bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-81 RI Kecamatan Belakang Padang. Pertandingan Joget Lambak tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkenalkan dan melestarikan seni budaya Melayu kepada generasi muda.

Peserta tampil secara bergantian sesuai nomor urut hasil pencabutan undian. Mereka menunjukkan kemampuan dalam mengikuti irama, gerakan, ekspresi hingga kekompakan kelompok di hadapan dewan juri dan masyarakat.

Pertandingan tersebut dibagi berdasarkan kelompok usia dan jenjang pendidikan, yakni tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA serta kategori umum. Pembagian ini memberikan kesempatan kepada peserta dari berbagai kelompok usia untuk ikut berpartisipasi dan menunjukkan kemampuan masing-masing.

Sejumlah sekolah dan kelompok seni ikut ambil bagian dalam pertandingan tersebut. Antusiasme peserta terlihat sejak persiapan hingga pelaksanaan lomba, dengan masing-masing kelompok berupaya memberikan penampilan terbaik.

 

Tiga Dewan Juri dari Kalangan Penggiat Seni

Untuk memastikan penilaian berjalan objektif dan sesuai dengan unsur-unsur seni tari, panitia menghadirkan tiga dewan juri, yakni Maulana, Fauzan, dan Budi Edwin.

Ketiganya memiliki pengalaman dan keterlibatan dalam bidang seni sehingga penilaian tidak hanya didasarkan pada kemeriahan penampilan, tetapi juga memperhatikan aspek dasar dalam tari.

Dewan juri Maulana menjelaskan bahwa terdapat sejumlah komponen yang menjadi perhatian dalam memberikan penilaian. Unsur tersebut meliputi wiraga, wirama, wirasa, kostum, serta penguasaan panggung.

“Kami di sini ada tiga juri pengadil. Ada Pak Budi, ada Pak Fauzan, dan saya sendiri Maulana. Kami sama-sama penggiat seni, koreografer,” kata Maulana.

Menurutnya, unsur wiraga menjadi salah satu bagian penting karena berkaitan dengan kemampuan peserta dalam melakukan gerakan tari. Selain itu, wirama berkaitan dengan kemampuan mengikuti irama, sedangkan wirasa melihat penghayatan dan ekspresi peserta ketika membawakan Joget Lambak.

Penilaian kemudian dilengkapi dengan aspek kostum dan penguasaan panggung. Kostum, kata dia, menjadi bagian pendukung yang dapat memperkuat karakter penampilan peserta.

“Kita memang betul-betul mengambil yang akar dari tari itu sendiri. Kan kalau tidak ada wiraga, tidak ada rasanya,” ujarnya.

Penampilan Bukan Hanya soal Gerakan

Dalam perlombaan seni tradisional, kemampuan melakukan gerakan secara tepat menjadi salah satu hal penting. Namun, menurut dewan juri, penampilan yang baik juga harus didukung kemampuan peserta dalam menghayati musik dan membangun suasana ketika berada di atas panggung.

Karena itu, peserta dituntut tidak hanya hafal gerakan, tetapi juga mampu menyesuaikan gerakan dengan irama dan menunjukkan ekspresi yang sesuai.

Penguasaan panggung juga menjadi perhatian. Peserta yang mampu tampil percaya diri, kompak dan memanfaatkan ruang pertunjukan dengan baik akan memiliki nilai tambah dalam penilaian.

Sementara kostum menjadi unsur pendukung yang memperkuat penampilan secara keseluruhan. Dengan perpaduan gerakan, irama, ekspresi, kostum dan penguasaan panggung, penampilan peserta diharapkan dapat menggambarkan karakter Joget Lambak secara lebih utuh.

Dorong Regenerasi Seni Budaya Melayu

Di balik perlombaan tersebut, terdapat pesan yang lebih besar, yakni bagaimana seni tradisional tetap mendapatkan tempat di tengah generasi muda.

Maulana berharap kegiatan Joget Lambak dapat menjadi salah satu sarana untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap adat dan budaya lokal.

“Harapan saya pertama, makin banyak regenerasi mencintai adat budaya lokal seperti Joget Lambak ini, melestarikan, tetap melestarikan,” katanya.

Ia juga berharap generasi muda tidak hanya menjadi penonton atau pelaku pertunjukan, tetapi ke depan mampu menjadi pencipta karya-karya baru yang tetap berakar pada budaya Melayu.

“Terus ada generasi kita sebagai pencipta tari kreasi baru, khususnya tari Melayu,” lanjutnya.

Harapan tersebut menjadi penting karena keberlangsungan sebuah kesenian sangat bergantung pada proses regenerasi. Jika generasi muda terus dilibatkan, kesenian tradisional tidak hanya menjadi bagian dari masa lalu, tetapi dapat terus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan identitasnya.

Camat: Jadi Ruang Kreativitas Generasi Muda

Camat Belakang Padang, Abdul Hanafi, mengapresiasi antusiasme peserta dan masyarakat yang ikut memeriahkan rangkaian HUT ke-81RI.

Menurutnya, kegiatan seni dan budaya seperti pertandingan Joget Lambak memiliki nilai positif karena mampu mempertemukan masyarakat dalam suasana kebersamaan sekaligus memberikan ruang bagi anak-anak dan generasi muda untuk mengembangkan bakat.

“Kami tentu mengapresiasi semangat masyarakat dan para peserta yang ikut memeriahkan HUT ke-81 RI. Kegiatan seperti ini menjadi ruang kebersamaan sekaligus kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai seni budaya daerah,” ujar Abdul Hanafi.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan sehingga seni budaya lokal tidak kehilangan tempat di tengah perkembangan zaman.

Selain sebagai hiburan, menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun kebersamaan masyarakat dalam memperingati hari kemerdekaan.

Semarak Kemerdekaan Sekaligus Merawat Budaya

Pertandingan Joget Lambak di Dataran Engku Putri memperlihatkan bahwa perayaan kemerdekaan dapat dikemas melalui berbagai kegiatan yang memiliki nilai budaya.

Para peserta mendapatkan pengalaman untuk tampil di depan masyarakat, berkompetisi secara sehat, membangun kekompakan dan mengenal lebih dekat kesenian tradisional.

Sementara masyarakat mendapatkan hiburan sekaligus kesempatan menyaksikan kreativitas generasi muda.

Kehadiran tiga dewan juri, Maulana, Fauzan dan Budi Edwin, memastikan penampilan peserta dinilai berdasarkan sejumlah unsur seni yang telah ditetapkan. Penilaian tersebut diharapkan mampu menghasilkan peserta terbaik sekaligus memberikan pemahaman bahwa Joget Lambak memiliki unsur seni yang harus dihargai dan dipelajari.

Di sisi lain, kehadiran pembawa acara Guntur Firdaus, S.Pd dan Waya Dila Fajrin, S.Pd turut menghidupkan jalannya kegiatan sehingga pertandingan berlangsung lebih semarak.

Pada akhirnya, pertandingan Joget Lambak bukan semata-mata tentang mencari pemenang. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya Melayu agar tetap hidup, dikenal dan dicintai generasi muda.

Semangat itulah yang diharapkan terus tumbuh di Kecamatan Belakang Padang. Sebab, kemerdekaan tidak hanya dimaknai dengan perayaan, tetapi juga dengan menjaga identitas, budaya dan nilai-nilai kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

 

 

Pewarta : M. Yusuf Suhaili
Editor : Zaki

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *