Batam | Kabar baik datang bagi masyarakat Batam, khususnya para pencari kerja. Pemerintah Kota Batam bersama Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) mulai memperkuat komitmen agar derasnya investasi di Kota Batam turut membuka lebih banyak kesempatan kerja bagi warga tempatan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemko Batam dan APINDO yang melibatkan 30 perusahaan besar. Penandatanganan berlangsung di Kantor Wali Kota Batam, Jumat (11/9/2026), dan disaksikan langsung Wakil Menteri Dalam Negeri RI Bima Arya Sugiarto.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan, pertumbuhan ekonomi dan investasi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Batam, salah satunya melalui peningkatan kesempatan kerja.
Menurut Amsakar, selama ini masih terdapat keluhan di tengah masyarakat karena pertumbuhan ekonomi dan investasi belum sepenuhnya berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja lokal.
Karena itu, Pemko Batam mendorong adanya komitmen yang lebih konkret dari dunia usaha.
“Dulu kita sudah sepakat, 15–20 persen rekrutmen diprioritaskan untuk anak Batam saat pertemuan dengan HRD perusahaan se-Kota Batam. Namun, komitmen lisan saja tidak cukup. Kita perlu aksi nyata yang lebih konkret dan terukur,” ujar Amsakar.
Komitmen tersebut kini mulai menunjukkan hasil.
PT Pegai Union menjadi salah satu perusahaan yang langsung merealisasikan kesepakatan tersebut dengan merekrut 200 tenaga kerja yang seluruhnya merupakan warga Batam.
Rekrutmen ini menjadi langkah awal dari kerja sama Pemko Batam dan APINDO untuk memperluas akses masyarakat lokal terhadap lapangan pekerjaan yang tersedia di tengah pertumbuhan industri dan investasi.
Tak hanya berhenti pada komitmen di atas kertas, proses penyerapan tenaga kerja tersebut juga dipantau melalui aplikasi SIMNAKER milik Dinas Tenaga Kerja Kota Batam.
Dengan sistem tersebut, pemerintah dapat memantau realisasi penyerapan tenaga kerja secara lebih transparan dan akuntabel.
Di sisi lain, Pemko Batam juga menyiapkan dukungan dari sisi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sekitar Rp40 miliar dana IMTA dialokasikan untuk program pelatihan dan peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal.
Langkah ini dinilai penting agar pencari kerja di Batam tidak hanya mendapatkan kesempatan, tetapi juga memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Kebijakan tersebut hadir di tengah pertumbuhan ekonomi Batam yang terus menunjukkan tren positif.
Pada triwulan II 2026, ekonomi Batam tumbuh 7,28 persen secara tahunan. Sementara itu, realisasi investasi pada semester I 2026 mencapai sekitar Rp29,9 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di angka Rp18,37 triliun.
Sejumlah indikator sosial ekonomi juga menunjukkan perkembangan. Tingkat kemiskinan turun dari 4,85 persen pada 2024 menjadi 3,81 persen pada 2025. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) juga turun menjadi 6,76 persen pada 2026, dari 7,68 persen pada tahun sebelumnya.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Batam turut meningkat menjadi 83,8.
Namun, pertumbuhan ekonomi tersebut juga membawa tantangan tersendiri. Batam menjadi salah satu daerah tujuan migrasi terbesar di Indonesia. Arus pendatang yang tinggi membuat persaingan mendapatkan pekerjaan semakin ketat.
“Batam adalah magnet pencari kerja. Jika tidak ada keberpihakan pemerintah, kita khawatir angka pengangguran justru akan meningkat lagi. Karena itu, intervensi ini sangat krusial,” kata Amsakar.
Meski memberikan prioritas kepada warga tempatan, Amsakar menegaskan kebijakan tersebut bukan berarti menutup peluang bagi tenaga kerja dari luar daerah ataupun menghambat investasi.
Sebaliknya, pemerintah memilih membangun kolaborasi dengan dunia usaha agar pertumbuhan investasi dapat menciptakan manfaat yang lebih luas.
“Kita ambil jalan tengah terbaik. Kita duduk bersama, cari solusi, dan pastikan warga Batam mendapat manfaat dari booming investasi ini,” tegasnya.
Peluang kerja baru juga diharapkan semakin terbuka seiring masuknya investasi bernilai tambah tinggi ke Batam.
Salah satunya melalui rencana pembangunan NVIDIA DDX AI Factory yang melibatkan NVIDIA bersama Firmus Technologies dan DayOne. Pusat data berbasis GPU tersebut direncanakan memiliki kapasitas hingga 170.000 chip akselerator AI/GPU dan ditargetkan mulai dibangun pada triwulan I 2027.
Ketua APINDO Kota Batam Rafki Rasyid menyambut baik kolaborasi tersebut. Menurutnya, tingginya pertumbuhan ekonomi harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
“Kalau ibarat kue, kue ekonomi kita terus bertumbuh. Pertanyaannya, apakah pertumbuhan itu dinikmati orang Batam? Kami berharap pengusaha lokal dan pekerja lokal juga merasakan dampaknya,” ujar Rafki.
Rafki mengatakan APINDO Batam yang menaungi sekitar 700 anggota, mayoritas perusahaan besar, siap mengawal kesepakatan tersebut.
Ia juga mengapresiasi program pelatihan yang dijalankan Dinas Ketenagakerjaan Kota Batam untuk meningkatkan kompetensi pencari kerja maupun pekerja.
Menurutnya, peningkatan keterampilan menjadi kunci agar tenaga kerja lokal mampu memenuhi kebutuhan industri yang terus berkembang.
Bagi masyarakat Batam, komitmen tersebut menjadi sinyal positif. Pertumbuhan investasi tidak hanya diharapkan membawa masuk modal dan membangun industri, tetapi juga membuka pintu pekerjaan lebih lebar bagi warga tempatan.
“Kami harus bekerja keras setelah ini untuk memastikan tenaga kerja lokal benar-benar terserap,” tutup Rafki.
Reporter : Ridwan





