Bintan | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengganas di wilayah Kecamatan Bintan Timur, Kabupaten Bintan, dalam beberapa pekan terakhir. Intensitas kebakaran yang terjadi hampir setiap hari membuat petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) berada di titik kewalahan, diperparah dengan keterbatasan armada serta minimnya dukungan operasional di lapangan.
Kondisi ini menyorot tajam perhatian publik terhadap kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam menghadapi bencana tahunan yang dampaknya sangat berbahaya, baik bagi lingkungan, kesehatan masyarakat, maupun aktivitas ekonomi warga.
Armada Terbatas, Sebagian Sudah Uzur
Berdasarkan data di lapangan, jumlah armada pemadam kebakaran di seluruh Kabupaten Bintan saat ini hanya lima unit. Dari jumlah tersebut, Bintan Timur hanya memiliki dua unit armada, masing-masing dengan nomor BP 8134 dan BP 8124.
Ironisnya, satu unit armada BP 8124 telah lama diback-up ke wilayah Toapaya dan kondisinya dinilai sudah tidak optimal. Sementara itu, Toapaya sendiri hanya memiliki dua unit armada berkapasitas 6.000 liter, dengan satu unit dalam kondisi rusak.
Kondisi ini membuat distribusi kekuatan pemadaman menjadi tidak seimbang, terutama saat kebakaran terjadi secara bersamaan di beberapa titik.
Karhutla Jadi “Langganan” Tahunan
Kepala UPTD Damkar Kecamatan Bintan Timur, Wendi, mengungkapkan bahwa wilayah Bintan Timur memang menjadi daerah yang rawan dan hampir setiap tahun dilanda karhutla.
“Kami dari pihak Damkar sangat berharap adanya tambahan armada. Setiap tahun, khususnya Bintan Timur, memang menjadi langganan kebakaran hutan. Beberapa pekan terakhir ini hampir setiap hari terjadi karhutla, dan itu jelas membuat kami kewalahan,” ujar Wendi sambil tersenyum, menyiratkan harapan besar akan perhatian pemerintah, Selasa (10/2)
Menurutnya, keterbatasan armada bukan hanya berdampak pada kecepatan penanganan, tetapi juga berisiko terhadap keselamatan petugas di lapangan yang harus berjibaku dengan kondisi serba terbatas.
BBM Hingga Operasional Menghadapi Tantangan
Selain keterbatasan armada, tantangan lain yang dihadapi Damkar di Bintan Timur adalah ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) untuk mendukung operasional di lapangan. Di tengah meningkatnya intensitas kebakaran, kebutuhan BBM menjadi faktor penting dalam memastikan respons yang cepat dan optimal.
Dalam praktiknya, pemenuhan kebutuhan operasional tersebut masih menghadapi sejumlah kendala. Kondisi ini tentu menjadi perhatian bersama, mengingat layanan pemadam kebakaran merupakan bagian vital dari sistem penanganan darurat yang menyangkut keselamatan masyarakat serta perlindungan lingkungan.
Desakan untuk Atensi Serius Pemerintah
Dengan tren karhutla yang terus meningkat setiap tahun, masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Bintan lebih tanggap dan memberikan atensi serius, khususnya dalam pengadaan armada pemadam kebakaran yang memadai serta dukungan operasional yang layak.
Kondisi armada yang sudah berusia senja, jumlah yang terbatas, serta beban kerja yang terus meningkat dinilai tidak sebanding dengan risiko bencana yang dihadapi.
Masyarakat menilai, tanpa langkah konkret dari pemerintah, persoalan karhutla tidak hanya akan terus berulang, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas dan membahayakan keselamatan banyak pihak.
Pewarta : Muhamad Tarmiji





