اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى فَضَّلَ بَنِى آدَمَ بِالْعِلْمِ وَالأَعْمَلْ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ. وَعَلَى أَلِهِ وَالصَّحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى أَخِرِ الأَيَّامِ. أََمَّا بَعْدُ
(Alhamdulilahil-ladzi fad-dholla baniy aadama bil ‘ilmi wal a’mal, wassholaatu wassalaamu ‘ala nabiyyinaa Muhammadin, wa’ala aalihi washokhbihi wat-tabi’iina lahum bi-ikhsaani ila aakhiril-ayyam. Amma ba’du.)
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salam dan selawat semoga senantiasa tercurah bagi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa salam beserta keluarganya, dan segenap kaum muslimin.
Kadang kita iseng membicarakan teman yang lain. Entah itu membicarakan tentang prestasinya, tapi berlanjut membahas semua kekurangannya.
Awalnya hanya omongin hal baik-baik saja. Namun, saat setan lewat, semua obrolan berubah menjadi tema-tema menusuk hati. Pernah seperti ini teman-teman?
Inilah yang dinamakan ghibah. Ghibah itu membicarakan air orang lain di tanpa kehadiran orang tersebut. Ghibah bisa dilakukan siapa pun, termasuk teman dekat kita.
Apalagi saat kita merasa sakit hati dengan seseorang, melakukan ghibah pada orang yang menyakiti adalah “kenikmatan”. Betul tidak?
Tapi, obrolan ghibah itu berbahaya. Jika orang yang dighibahi sampai tahu, ia akan memusuhi kita. Lebih bahaya lagi, kita menjadi musuh Allah dan Rasulnya. Ngeri kan?
Ghibah adalah perkara yang tidak ringan. Allah sampai melarang kita melakukannya seperti disebutkan dalam firman-Nya pada surah Al-Hujurat ayat 12:
“Dan janganlah kamu menggunjingkan satu sama lain. Adakah diantara kamu yang suka makan daging saudaranya setelah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah pada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat dan Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat:12)
Begitu buruknya perilaku ghibah. Allah sampai menyamakan orang yang berghibah seperti sedang memakan bangkai sendiri. Padahal, sebagai saudara seiman, kita seharusnya saling menjaga kehormatan orang mukmin.
Di sisi lain, ghibah itu hanya akan merusak ibadah kita di bulan Ramadhan. Hadis dari Abu Hurairah menyebutkan, bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
Barangsiapa tidak meninggalkan kebohongan (perkataan kotor) di bulan Ramadhan maka puasa yang dia lakukan tidak bernilai apa-apa di mata Allah, meskipun dia menahan lapar dan haus. (HR. Abu Dawud).
Oleh sebab itu, mari kita puasa Ramadhan ini penuh hikmah dengan salah satunya meninggalkan ghibah. Di luar bulan Ramadhan pun seharusnya kita juga tidak melakukan pergunjingan ini. Semoga Allah menyelamatkan kita dari dosa ghibah.
