Belakang Padang | Suasana penuh sukacita dan haru menyelimuti prosesi pernikahan Samuel Hanugerah Kusa, ATT III dengan Ns. Putri Natalia Millu, S.Kep, yang berlangsung khidmat di Gereja Isa Al-Masih, Belakang Padang, Sabtu (27/6/2026).
Pernikahan ini menjadi momen istimewa yang tidak hanya mempersatukan dua insan dalam ikatan suci, tetapi juga menyatukan dua keluarga besar dalam kasih Tuhan serta memperlihatkan indahnya perpaduan antara nilai-nilai keagamaan dan budaya Nusantara.

Mengawali rangkaian acara, firman Tuhan dari Matius 19:6 (TB) menjadi dasar dan pengingat akan kesakralan pernikahan.
“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Ayat tersebut menjadi makna mendalam bagi kedua mempelai yang mengikat janji suci di hadapan Tuhan, keluarga, serta seluruh jemaat yang hadir.

Samuel Hanugerah Kusa, ATT III, merupakan putra ketiga dari almarhum Daniel A. Kusa dan Sofia Kismowiyono. Sementara mempelai wanita, Ns. Putri Natalia Millu, S.Kep, merupakan putri pertama dari Hepry Reynyer Gasper Millu dan Yeni Lestari.

Prosesi pemberkatan dilaksanakan pada Sabtu, 27 Juni 2026, pukul 09.00 hingga 11.00 WIB di Gereja Isa Al-Masih Belakang Padang. Dalam suasana yang penuh hikmat, kedua mempelai mengucapkan janji setia sebagai suami istri. Tangis haru, doa, dan senyum bahagia mewarnai setiap rangkaian ibadah pemberkatan yang menjadi awal perjalanan hidup baru bagi keduanya.
Usai pemberkatan, kedua mempelai beserta keluarga diarak keluar dari Gereja Isa Al-Masih menuju Gedung Nasional Belakang Padang, lokasi resepsi pernikahan. Arak-arakan tersebut berlangsung meriah dengan penyambutan Tarian Caka Lele, tarian perang tradisional khas Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang sarat makna keberanian, penghormatan, persaudaraan, dan sukacita dalam menyambut tamu kehormatan.
Dentuman gong dan tabuhan genderang yang mengiringi gerakan para penari menciptakan suasana penuh semangat. Penampilan tarian Caka Lele menjadi simbol penghormatan kepada kedua mempelai sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Alor kepada seluruh tamu undangan yang hadir.
Resepsi pernikahan kemudian berlangsung di Gedung Nasional Belakang Padang mulai pukul 12.00 hingga 21.00 WIB. Suasana hangat penuh kekeluargaan terasa ketika keluarga, sahabat, kerabat, dan para undangan hadir memberikan doa restu kepada pasangan pengantin.
Pada sore harinya, kemeriahan semakin lengkap dengan digelarnya Prosesi Pedang Pora pada pukul 16.00 hingga 17.00 WIB. Tradisi yang identik dengan penghormatan kepada pasangan pengantin tersebut berlangsung khidmat. Samuel dan Putri berjalan melewati barisan pedang yang terangkat membentuk gerbang kehormatan, diiringi tepuk tangan meriah para tamu yang menyaksikan momen bersejarah itu.
Menjelang malam, rangkaian acara ditutup dengan Prosesi Adat yang berlangsung pukul 19.30 hingga 21.00 WIB. Prosesi tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur sekaligus mempererat tali persaudaraan antar kedua keluarga besar dalam suasana penuh sukacita.
Seluruh rangkaian acara berlangsung tertib, megah, dan berkesan dengan penataan yang dipercayakan kepada BS Wedding Organizer Belakang Padang. Sentuhan dekorasi yang elegan, pengaturan acara yang rapi, hingga koordinasi setiap prosesi membuat jalannya pemberkatan, resepsi, Pedang Pora, dan prosesi adat berlangsung lancar serta meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh tamu undangan.
Turut hadir memberikan doa restu dan ucapan selamat kepada kedua mempelai sejumlah tokoh penting, di antaranya Waka DPRD Kota Batam, Aweng Kurniawan, Ketua DPRD Provinsi Kepri, Iman Sutiawan, Kapolsek Belakang Padang, Camat Belakang Padang, Lurah Tanjung Sari, Lurah Sekanak Raya, unsur Danposal, Koramil, serta para tokoh masyarakat Belakang Padang. Kehadiran para pemimpin wilayah dan tokoh masyarakat tersebut semakin menambah semarak suasana sekaligus menjadi bentuk dukungan dan kebersamaan dalam momen bahagia kedua mempelai.
Di tengah kebahagiaan tersebut, ayah mempelai wanita, Hepry Reynyer Gasper Millu, menyampaikan doa dan harapan tulus kepada kedua mempelai. Dengan penuh rasa syukur, ia berharap rumah tangga yang baru dibangun dapat senantiasa berada dalam penyertaan Tuhan.
“Sebagai orang tua, kami mengucapkan syukur kepada Tuhan karena telah mempertemukan dan mempersatukan Samuel dan Putri dalam ikatan pernikahan yang kudus. Kiranya mereka selalu berjalan dalam tuntunan Tuhan, membangun rumah tangga yang dipenuhi kasih, kesetiaan, pengertian, dan saling mendukung. Jadilah keluarga yang takut akan Tuhan, menjadi berkat bagi sesama, serta dikaruniai kesehatan, kebahagiaan, dan keturunan yang membawa sukacita bagi keluarga. Apa yang telah dipersatukan Tuhan kiranya tetap kokoh sampai akhir hayat,” ungkap Hepry Reynyer Gasper Millu.
Perpaduan antara pemberkatan gereja, arak-arakan budaya dengan tarian Caka Lele khas Alor, Prosesi Pedang Pora, hingga rangkaian adat menjadikan pernikahan Samuel Hanugerah Kusa dan Putri Natalia Millu bukan sekadar seremoni penyatuan dua insan, melainkan juga sebuah perayaan kasih yang dibalut keberagaman budaya Indonesia.
Semoga ikatan suci yang telah diteguhkan di hadapan Tuhan menjadi awal perjalanan rumah tangga yang penuh kasih, damai, dan berkat, sebagaimana firman Tuhan dalam Matius 19:6, bahwa apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia.
Pewarta : M. Yusuf Suhaili Editor : Zaki





