Tahap Pertama Penilaian Lampu Hias Ramadan 1447 H di Belakang Padang, Kreativitas Warga Bikin Juri Terpukau

Belakang Padang | Berangkat dari semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap tradisi, masyarakat di berbagai kampung dan RT/RW dengan antusias ikut ambil bagian dalam Perlombaan Lampu Hias Ramadan 1447 H di Belakang Padang. Kegiatan ini bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan wujud nyata gotong royong warga dalam menyemarakkan malam-malam penuh cahaya, keindahan, dan makna persaudaraan.

Sejak awal persiapan, suasana kampung sudah terasa berbeda. Di Pulau Sekanak RT 01/RW 04, warga bersama penanggung jawab Maiyudi bahu-membahu mempercantik wilayah Pi Sekanak RT 01. Setiap sudut jalan dihiasi lampu warna-warni yang tertata rapi, menciptakan nuansa hangat dan ramah bagi siapa saja yang melintas.

Tak kalah meriah, PPTG Kebun Tempang menampilkan keindahan lampu hias mulai dari Gapura “Beraye Lagi Kite” hingga rumah almarhum Bapak Saed di Sungai Kebun Tempang. Di bawah koordinasi Didit Darmadi, warga menyatukan ide dan tenaga, menjadikan kawasan tersebut tampak hidup dan penuh cahaya di malam hari.

Di Kampung Jawa RT 002/RW 002, kreativitas warga terlihat jelas dari penataan lampu yang membentang dari Gapura Warung Jono hingga simpang rumah Bapak Sugeng. Andhika Putra sebagai penanggung jawab berhasil menggerakkan warga untuk menampilkan konsep sederhana namun elegan.

Sementara itu, Negeri Pasir Bedengung Kapten juga tak mau ketinggalan. Wilayah RT 001/RW 002 hingga RT 002/RW 001 disulap menjadi jalur cahaya yang memukau berkat kekompakan warga di bawah kepemimpinan Azan Rizal.

Semangat yang sama terasa di Kampung Jawa RT 001/RW 003, di mana lampu hias terpasang indah dari Posyandu Nusa Indah hingga SD 002 dan pelantar hijau rumah Pak Anuar. Oswandi sebagai penanggung jawab memastikan setiap detail diperhatikan agar keindahan lampu selaras dengan lingkungan sekitar.

Wilayah Kampung Rawasari tampil menonjol dengan jalur panjang yang dihiasi lampu dari TK Hang Tuah, depan SD 001, jembatan utama Rawasari, hingga rumah-rumah warga dan bangunan penting lainnya. Di bawah koordinasi Dede Ahmad Kurniadi, kawasan ini menjadi salah satu titik yang paling ramai dikunjungi warga untuk menikmati suasana malam Ramadan.

Di Gang 69 Dapur Arang, nuansa kekeluargaan sangat terasa. Gang perumahan di samping panggung serbaguna itu berubah menjadi lorong cahaya yang indah berkat peran aktif Nurhayati dan warga sekitar.

Begitu pula RT 01/RW 01 Kampung Tengah, yang menampilkan lampu hias dari Gapura Lapangan Tenis hingga Gapura Haji Maizah, menciptakan jalur cahaya harmonis di bawah tanggung jawab Julianto.

Tak kalah menarik, kawasan Kampung Tengah RT 2/RW 2 Gang Dingkis Lebam Masuk Jareng menghadirkan lampu hias dari depan perumahan migrasi hingga ke gang-gang kecil pemukiman warga. Muhammad Yusuf bersama warga berhasil menghidupkan suasana malam dengan sentuhan kreativitas sederhana namun berkesan.

Di Kampung Tanjung, lampu hias membentang dari Pelantar 1, Tanjung Syahbandar, hingga berbagai titik strategis seperti panggung serbaguna dan pelantar hitam. Koordinasi yang baik di bawah M. Syahputra menjadikan wilayah ini tampak semarak dan tertib.

Sementara itu, Sungai Buaya juga ikut bersinar dengan hiasan lampu dari rumah Ibu Alam hingga depan rumah Amir berkat kerja sama warga yang dipimpin Sahriko.

Terakhir, Batu Gajah menutup daftar peserta dengan jalur lampu hias yang membentang dari SMP 1 hingga kawasan Bukit Pasir Putih, menambah semarak perlombaan dengan sentuhan khas wilayah tersebut di bawah tanggung jawab Robin.

Tahap Pertama Penilaian: Juri Akui Sulit Tentukan yang Terbaik

Memasuki Ramadan ke-3, dewan juri melakukan penilaian tahap pertama. Tim juri yang terdiri dari Ramos, Ryan Signori, Rudi, dan Nino turun langsung meninjau seluruh titik peserta. Penilaian ini menjadi momen penting karena menjadi tolok ukur awal kreativitas dan kesiapan masing-masing wilayah.

Salah satu juri, Rudi, mengungkapkan kesan mendalamnya usai berkeliling. “Kami dari Solmi (Solidaritas Musisi dan Penyanyi Batam) diminta perbantukan dalam penilaian lampu hias di Belakang Padang. Ternyata, jujur kami baru melihat dan ini sangat luar biasa. Ini menginspirasi. Kalau boleh, ke depan bisa dijadikan ikon dan bahkan dikembangkan menjadi destinasi wisata nantinya,” ujar Rudi saat dilokasi, Sabtu (21/2) malam.

Menurutnya, pada tahap pertama saja, potensi yang ditampilkan sudah sangat kuat. “Untuk penilaian pertama ini luar biasa. Saya pribadi bersama tim agak repot juga menentukan mana yang terbaik, karena semuanya kreatif dan bagus,” ungkapnya.

Rudi menjelaskan bahwa karakter penilaian difokuskan pada dua aspek utama. “Bagi saya, pertama adalah estetika dan kedua keindahan. Unsur-unsur alam juga harus diperhatikan. Memang ada beberapa hal yang mungkin masih bisa dikembangkan, seperti bunga dan pohon-pohon yang bisa lebih dikreasikan lagi. Tapi pada intinya, semuanya sudah indah,” jelasnya.

Panitia menegaskan bahwa penilaian dilakukan dalam tiga tahap, yakni Ramadan ke-3, Ramadan ke-15, dan Ramadan ke-28. Tahapan ini memberi kesempatan kepada peserta untuk terus berbenah dan menyempurnakan kreativitas hingga penilaian akhir.

Sementara itu, Ketua PHBI Belakang Padang, Faizal, M.Pd, turut menyampaikan apresiasi dan harapannya atas suksesnya tahap pertama penilaian ini. Ia menegaskan bahwa perlombaan lampu hias bukan semata-mata tentang menang atau kalah, melainkan tentang menghidupkan syiar Ramadan dan mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi semangat seluruh warga yang telah berpartisipasi. Ini bukan hanya lomba, tetapi bagian dari syiar Ramadan dan bentuk kebersamaan kita. Cahaya lampu yang menghiasi kampung-kampung ini adalah simbol cahaya iman dan persaudaraan,” ujar Faizal.

Ia berharap pada tahap kedua dan ketiga nanti, kreativitas warga semakin berkembang, tetap menjaga keamanan instalasi listrik, serta terus memperhatikan unsur keindahan lingkungan.

“Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi agenda tahunan yang terus kita tingkatkan kualitasnya. Bahkan ke depan, bukan tidak mungkin bisa menjadi ikon Ramadan Belakang Padang,” tutupnya.

Dengan berakhirnya tahap pertama penilaian, satu hal yang jelas terlihat: Ramadan di Belakang Padang bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menyalakan cahaya kebersamaan. Dan pada malam-malam penuh kilau itu, yang paling bersinar bukan sekadar lampu hias melainkan semangat persatuan warga.

 

Pewarta : M. Yusuf Suhaili

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *