Batam | Viral di Batam terkait video penutupan akses yang selama ini digunakan oleh warga dan juga media untuk mengambil gambar sungai Baloi Indah yang ditimbun oleh oknum pejabat provinsi dan tanahnya belum diambil hingga saat ini.
Awalnya akses pengambilan foto berlokasi di samping salah satu apartemen yang hanya dipagar pakai kawat duri.
Ini bertujuan agar orang tidak berkepentingan tidak bisa masuk ke bibir sungai.
Namun setelah beberapa hari lalu hujan deras turun dan sungai Baloi penuh dan hampir masuk ke rumah warga Kezia, banyak warga dan juga media yang datang ke lokasi untuk mengambil gambar dan juga Video dari samping apartemen.
Video yang di posting oleh warga dan juga media viral di Batam.
Hal tersebut membuat pagar kawat duri yang sebelumnya terpasang di samping apartemen, kini ditutup menggunakan seng.
“Jadi sekarang sudah tidak bisa lagi mengambil foto maupun video dari samping apartemen,” ucap Ade, Ketua RT 05/RW 06 Perumahan Kezia Baloi Indah, Selasa (15/4/2025).
Ade mengatakan pihaknya kurang tahu persis siapa yang melakukan pemagaran atau penutupan akses pengambilan foto dan video dari samping apartemen.
“Kalau sesuai dengan pernyataan Wakil Walikota Batam, Li Claudia Chandra beberapa waktu lalu saat meninjau proyek di lokasi. Bahwa apartemen hanya memiliki PL sampai pagar apartemen,” kata Ade.
Ade mengatakan akses jalan yang saat ini dipagar bukan milik apartemen melainkan row sungai.
“Kami tidak mau menuduh siapapun. Hanya saja kami pertanyakan kenapa harus ditutupi. Pasalnya, sampai saat ini tanah yang menimbun badan sungai belum diangkat,” ujarnya.
Ade juga berharap pemerintah Kota Batam yakni Walikota Batam, Amsakar Ahmad dan juga Wakil Wali kota Batam, Li Claudia Chandra agar datang melihat langsung kondisi saat ini.
“Harapan kami juga pasca hujan deras turun, pak wali dan Bu wali datang kelapangan agar melihat langsung kondisi air di sungai,” katanya.
Mereka juga berharap tanah yang digunakan menimbun Sungai agar secepatnya diangkat karena sangat mengkhawatirkan warga di RW 06, khususnya Perumahan Kezia.
“Janganlah tunggu ada korban, baru bergerak. Namanya musibah kita tidak tahu kapan datangnya. Jangan sampai nanti tengah malam hujan turun warga kami kebanjiran,” kata Ade.





