Batam | Sejumlah pekerja asal Majalengka, Jawa Barat, mengaku menjadi korban dugaan penganiayaan saat hendak meninggalkan proyek pembangunan perumahan di Batam.
Kasus tersebut mencuat setelah video berdurasi sekitar 2 menit 16 detik beredar luas di media sosial. Dalam video itu, sejumlah pekerja mengaku mendapat perlakuan kekerasan dan meminta bantuan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) untuk membantu mereka pulang ke daerah asal.
Dalam tayangan yang dilihat posmetrobatam.co.id, Selasa (5/10) tersebut, salah seorang pekerja terlihat bertelanjang dada sambil memperlihatkan sejumlah luka yang disebut sebagai bekas pukulan pada bagian bahunya.
“Tolong kami Pak Dedi, kami di sini Pak Dedi. Kami dipukuli kayak kami ini maling aja. Kami di Perumahan Pondok Daun Sekupang,” ujar sejumlah pekerja dalam video yang beredar.
Perkara itu kini ditangani kepolisian. Tiga pekerja telah membuat laporan dan kasus tersebut ditangani Unit Reskrim Polsek Sagulung karena lokasi dugaan penganiayaan disebut berada di wilayah hukum tersebut.
Kanitreskrim Polsek Sagulung Ipda Riyanto membenarkan adanya laporan dari para pekerja tersebut.
“Sudah kita menerima laporan, dan sedang kita tindak lanjuti,” kata Riyanto, Rabu (6/10).
Berdasarkan pemeriksaan awal, para pekerja tersebut didatangkan langsung dari Majalengka untuk bekerja pada proyek pembangunan perumahan di Batam. Selama berada di Batam, mereka tinggal di mes yang berada di lokasi pekerjaan.
Menurut keterangan awal yang diterima polisi, dugaan kekerasan terjadi sekitar dua bulan lalu. Peristiwa itu diduga bermula ketika para pekerja berupaya meninggalkan lokasi proyek.
“Jadi para korban ini langsung didatangkan dari Majalengka, Jawa Barat, dan di Batam tinggal di mes lokasi pekerjaan,” ujar Riyanto.
Para pekerja mengaku keputusan untuk meninggalkan proyek dilatarbelakangi persoalan pekerjaan. Mereka disebut tidak mendapatkan kejelasan terkait upah dan merasa adanya pembatasan dalam hal pinjaman.
Kondisi tersebut kemudian membuat mereka memilih untuk meninggalkan proyek. Namun, saat hendak pergi, mereka mengaku mendapat perlakuan kekerasan.
“Untuk pemukulan sendiri dilakukan oleh pemilik proyek di wilayah Sagulung. Lokasi penyiksaan di Sagulung, makanya kita yang tangani,” kata Riyanto.
Sebelumnya, perkara tersebut sempat dikaitkan dengan wilayah Sekupang lantaran proyek perumahan tempat para pekerja bekerja disebut berada di kawasan tersebut.
Kapolsek Sekupang Kompol Hippal Tua Sirait menegaskan, lokasi dugaan penganiayaan berada di wilayah hukum Polsek Sagulung.
“Untuk kejadian tersebut berada di wilayah hukum Polsek Sagulung,” ujarnya.
Dalam perkembangan penanganan perkara, polisi telah mengamankan seorang terduga pelaku. Saat ini, penyidik masih melakukan pemeriksaan terhadap para korban maupun terduga pelaku untuk mengungkap secara utuh kronologi dan motif dugaan penganiayaan tersebut.
“Terduga pelaku sudah kita amankan, nanti akan segera kita berikan perkembangan,” kata Riyanto.
Polisi juga masih mengumpulkan keterangan para korban serta bukti-bukti yang berkaitan dengan perkara tersebut. Hasil penyelidikan akan menjadi dasar bagi kepolisian untuk menentukan proses hukum selanjutnya.
Sementara itu, video yang beredar di media sosial menjadi perhatian publik setelah para pekerja secara terbuka meminta bantuan KDM. Mereka mengaku sudah tidak sanggup menjalani kondisi yang mereka alami dan berharap dapat dijemput serta dipulangkan ke Majalengka.
Hingga kini, polisi masih mendalami seluruh keterangan terkait dugaan kekerasan tersebut, termasuk persoalan pekerjaan dan upah yang disebut menjadi latar belakang para pekerja memilih meninggalkan proyek.
Reporter : Aken





