Bintan | Keberadaan sejumlah warung remang di wilayah RT 002/RW 006, tepat di depan pintu masuk Pelabuhan Pelni Sungai Kolak, Kijang, Kabupaten Bintan, kembali menjadi sorotan warga. Aktivitas di lokasi tersebut dinilai meresahkan dan mencoreng citra kawasan yang merupakan salah satu akses utama keluar-masuk penumpang di wilayah itu, terlebih saat ini umat Muslim tengah menjalani ibadah di bulan suci Ramadan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, warung-warung tersebut diduga kerap dijadikan tempat praktik maksiat, peredaran minuman keras, hingga aktivitas perjudian. Selain itu, lokasi itu juga disebut-sebut menjadi tempat mangkal para pekerja seks komersial yang menunggu pelanggan, terutama pada malam hari.
Seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama tanpa adanya penanganan yang tegas.
“Sudah dari dulu seperti ini. Di depan pelabuhan memang sering jadi tempat orang mabuk, ribut, bahkan diduga praktik maksiat. Kami sebagai warga tentu merasa tidak nyaman,” ujarnya, Jum’at (27/2) malam.
Menurutnya, situasi itu semakin memprihatinkan karena lokasinya yang sangat strategis, persis di salah satu pintu masuk pelabuhan yang menjadi akses penting masyarakat maupun pendatang melalui layanan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni). Sebagai gerbang kedatangan, kawasan tersebut semestinya mencerminkan wajah daerah yang tertib dan bermartabat.
Keresahan warga semakin memuncak karena aktivitas tersebut tetap berlangsung meski telah memasuki bulan suci Ramadan. Bulan yang identik dengan suasana religius, peningkatan ibadah, serta penguatan nilai-nilai moral itu justru dinilai ternodai oleh praktik-praktik yang bertentangan dengan norma agama dan sosial.
“Ini bulan Ramadan, seharusnya suasana lebih kondusif dan ada pengawasan ekstra dari aparat. Tapi kenyataannya aktivitas seperti itu masih saja berjalan. Kami khawatir citra daerah jadi buruk di mata pendatang,” tambah warga tersebut.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa aktivitas di warung remang tersebut masih terlihat, terutama selepas waktu berbuka puasa hingga larut malam. Lampu-lampu temaram menyala dengan sejumlah pengunjung yang datang dan pergi. Warga mengaku khawatir jika kondisi ini terus dibiarkan, potensi keributan, tindak kriminal, dan gangguan ketertiban umum akan semakin meningkat.
Selain dugaan praktik maksiat, warga juga menyoroti kemungkinan adanya perjudian serta perkelahian yang kerap terjadi akibat pengaruh minuman keras. Mereka berharap aparat keamanan bersama pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah konkret, baik melalui penertiban maupun pengawasan rutin, guna memastikan kawasan tersebut kembali kondusif.
Warga pun meminta agar keberadaan warung-warung tersebut dievaluasi secara menyeluruh, terutama mengingat lokasinya yang berada tepat di salah satu pintu masuk pelabuhan. Mereka berharap kawasan tersebut dapat dibenahi sehingga menjadi lingkungan yang aman, tertib, dan selaras dengan nilai-nilai masyarakat, khususnya di bulan suci Ramadan yang seharusnya menjadi momentum memperbaiki diri dan lingkungan sekitar.
“Harapan kami sederhana, agar kawasan ini bersih dari aktivitas yang meresahkan dan bisa menjadi tempat yang layak dipandang. Apalagi ini gerbang masuk Kijang. Jangan sampai orang luar menilai daerah kita dari pemandangan yang kurang baik,” tutup warga setempat.
Pewarta : Muhamad Tarmiji





