Tausiyah Keagamaan : Mencari Untung Sesaat, Mengundang Derita Berkepanjangan

foto ilustrasi.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman, kesehatan, dan kesempatan untuk menjalani kehidupan di dunia ini.

Bacaan Lainnya

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman.

Dihari ini marilah kita merenungkan satu persoalan yang dapat merusak kehidupan manusia, yaitu perjudian, termasuk praktik judi tebak angka yang dikenal dengan sebutan Sie Jie.

Judi sering kali dimulai dari rasa penasaran. Awalnya hanya mencoba dengan uang kecil. Ketika menang, muncul keinginan untuk menang lebih besar. Ketika kalah, timbul keinginan untuk mengembalikan uang yang hilang.

Akhirnya, seseorang terjebak dalam lingkaran yang sulit dihentikan.

Ingatlah, judi menjanjikan keuntungan, tetapi tidak pernah menjamin kebahagiaan.

1. Judi Dilarang dalam Islam

Allah SWT dengan tegas melarang perjudian sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Ma’idah ayat 90:

Yā ayyuhalladzīna āmanū innamal-khamru wal-maisiru wal-anṣābu wal-azlāmu rijsum min ‘amalisy-syaiṭāni fajtanibūhu la’allakum tufliḥūn.

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, berkurban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung.”

(QS. Al-Ma’idah: 90)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa perjudian bukan sekadar persoalan kehilangan uang. Judi merupakan perbuatan yang dilarang dalam Islam dan harus dijauhi.

Tidak peduli apakah taruhannya besar atau kecil, dilakukan secara langsung atau melalui telepon seluler, apabila terdapat unsur perjudian, maka perbuatan tersebut tetap harus ditinggalkan.

2. Judi Sie Jie Dapat Menghancurkan Rumah Tangga

Coba kita renungkan. Uang yang digunakan untuk membeli kebutuhan keluarga, membayar biaya sekolah anak, membeli beras, atau memenuhi kebutuhan orang tua, justru dipertaruhkan untuk mengejar angka yang belum tentu menghasilkan kemenangan.

Ketika kalah, seseorang mungkin kembali memasang taruhan. Ketika kalah lagi, ia berusaha mencari uang tambahan. Tidak sedikit orang yang akhirnya berutang, berbohong kepada keluarga, bahkan mengabaikan tanggung jawabnya.

Pertanyaannya, apakah pantas kebahagiaan keluarga dipertaruhkan demi harapan mendapatkan uang secara instan?

Anak dan istri membutuhkan nafkah yang halal, bukan janji kemenangan yang belum pasti.

Orang tua membutuhkan perhatian, bukan uang belanja yang habis karena perjudian.

Jangan sampai kita sibuk mengejar angka, tetapi lupa memperjuangkan masa depan keluarga.

3. Jangan Tertipu oleh Kemenangan Sesaat

Judi sering membuat seseorang mengingat kemenangan, tetapi melupakan kerugian yang telah dialaminya.

Ketika menang, ia merasa memiliki keberuntungan. Ketika kalah, ia merasa hanya perlu mencoba sekali lagi.

Padahal, kemenangan sesaat bukan jaminan bahwa seseorang akan terus menang.

Dalam perjudian, uang yang dipertaruhkan dapat hilang tanpa memberikan manfaat apa pun bagi kehidupan. Keinginan mengejar kekalahan justru dapat membuat kerugian semakin besar.

Rezeki tidak seharusnya dicari dengan cara yang dilarang agama. Bekerja dengan jujur, berdagang secara halal, dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarga jauh lebih bermartabat daripada mempertaruhkan uang dalam perjudian.

Jangan mengukur keberhasilan dari seberapa cepat seseorang mendapatkan uang. Ukurlah keberhasilan dari keberkahan rezeki, ketenangan hati, dan kemampuan memenuhi tanggung jawab kepada keluarga.

4. Judi Dapat Merusak Hubungan Sosial

Persoalan perjudian tidak berhenti pada diri pelakunya.

Jika dibiarkan, perjudian dapat memengaruhi hubungan keluarga, persahabatan, dan kehidupan bermasyarakat.

Orang yang terlilit kerugian bisa mengalami tekanan ekonomi. Konflik dapat muncul ketika uang keluarga digunakan untuk taruhan. Kepercayaan yang telah dibangun bertahun-tahun pun bisa rusak.

Karena itu, masyarakat perlu saling mengingatkan.

Apabila kita mengetahui adanya dugaan praktik perjudian di lingkungan sekitar, jangan ikut bermain, jangan menjadi perantara taruhan, dan jangan membantu menyebarkan praktik tersebut.

Namun, menyampaikan kepedulian juga harus dilakukan dengan cara yang bijaksana. Jangan main hakim sendiri, jangan menyebarkan tuduhan tanpa bukti, dan jangan mempermalukan seseorang tanpa memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Mari kita tegakkan nilai agama dan hukum dengan tetap menjaga persaudaraan serta ketertiban masyarakat.

5. Mari Kembali kepada Jalan yang Halal

Bagi siapa pun yang pernah terlibat dalam perjudian, pintu untuk memperbaiki diri selalu terbuka selama kita mau bertobat dan berusaha berubah.

Jangan merasa terlambat untuk berhenti.

Mulailah dengan menghentikan taruhan, menjauhi lingkungan yang mendorong perjudian, mengelola kembali keuangan, dan mencari pekerjaan atau usaha yang halal.

Jika sulit berhenti karena dorongan untuk terus berjudi, jangan malu meminta bantuan keluarga, tokoh agama, atau tenaga profesional yang dapat mendampingi proses pemulihan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53:

“Lā taqnaṭū mir raḥmatillāh.”

Artinya:

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”

Jangan biarkan kesalahan masa lalu menghancurkan masa depan. Jadikan penyesalan sebagai awal perubahan.

Marilah kita menjaga diri, keluarga, dan lingkungan kita dari bahaya perjudian.

Jangan sampai uang yang seharusnya menjadi sumber kehidupan berubah menjadi sumber penderitaan.

Jangan sampai keinginan menjadi kaya dengan cepat membuat kita kehilangan ketenangan, keharmonisan rumah tangga, dan keberkahan rezeki.

Khususnya bagi masyarakat Belakang Padang, mari kita bersama-sama menjaga Pulau Penawar Rindu agar menjadi lingkungan yang aman, religius, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Melayu yang berlandaskan adat serta agama.

Kita ingin generasi muda tumbuh dengan semangat bekerja, belajar, dan berusaha, bukan dengan kebiasaan mempertaruhkan masa depan.

Lebih baik mendapatkan rezeki sedikit tetapi halal dan berkah, daripada mengejar keuntungan besar melalui jalan yang dilarang Allah SWT.

Ingatlah tiga perkara:

  • Jangan mencari rezeki melalui perjudian.
  • Jangan mempertaruhkan nafkah keluarga demi kemenangan sesaat.
  • Jangan takut berhenti dari judi dan memulai kehidupan yang lebih baik.

Semoga Allah SWT melindungi kita dan keluarga kita dari segala bentuk perjudian, melapangkan rezeki kita melalui jalan yang halal, serta menjadikan masyarakat kita masyarakat yang aman, damai, dan diridai-Nya.

Wallāhu a’lam bish-shawāb.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *