Batam | Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Kepulauan Riau, memperkuat kesiapsiagaan untuk mengantisipasi potensi masuknya virus Nipah, meski hingga saat ini belum ada pemberitahuan resmi dari Kementerian Kesehatan terkait ancaman penyebarannya di Indonesia.
Kepala Dinkes Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan bahwa langkah kewaspadaan tetap dijalankan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) atau Early Warning Alert and Response System (EWARS), yang selama ini menjadi standar pemantauan penyakit menular.
“Kalau kewaspadaan, kita tetap selalu siap dengan SKDR. Sampai sekarang belum ada notifikasi khusus dari kementerian soal virus Nipah, tapi sistem kita selalu siap,” ujar Didi saat dikonfirmasi, Rabu (28/1).
Kewaspadaan ini dilakukan menyusul laporan merebaknya virus Nipah di wilayah Benggala Barat, India. Sebagai salah satu gerbang barat Indonesia yang menerima sekitar 3.000 wisatawan asal India setiap bulannya, Batam dinilai perlu meningkatkan antisipasi sejak dini.
Didi menjelaskan, penguatan kesiapsiagaan dilakukan melalui pemantauan informasi resmi dari Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), peningkatan kewaspadaan klinis di fasilitas pelayanan kesehatan, serta kesiapan sistem rujukan dan pencegahan infeksi apabila ditemukan pasien suspek.
Ia memastikan fasilitas kesehatan di Batam, khususnya rumah sakit rujukan, dalam kondisi siap menangani kemungkinan kasus. Kesiapan tersebut didukung oleh ketersediaan ruang isolasi yang sebelumnya digunakan saat pandemi COVID-19.
“Rumah sakit di Batam siap jika ada kasus, karena ruang isolasi standar COVID masih tersedia,” jelasnya.
Meski demikian, Didi mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik. Ia meminta warga tetap waspada serta mengikuti informasi resmi yang disampaikan Dinkes maupun Kemenkes, dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi.
Selain itu, masyarakat diingatkan untuk mengurangi risiko penularan penyakit zoonosis dengan menghindari kontak langsung dengan hewan liar atau hewan yang sakit, menjaga kebersihan diri, serta memastikan makanan dan buah dikonsumsi dalam kondisi bersih dan matang.
“Perilaku hidup bersih dan sehat tetap menjadi kunci, seperti rutin mencuci tangan, menerapkan etika batuk, dan menggunakan masker saat sedang sakit,” katanya.
Didi menegaskan, apabila masyarakat mengalami gejala seperti demam, gangguan pernapasan, atau penurunan kesadaran, agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. (lia)





