Kakanim Belakang Padang Tedy Wibisono Tampil Berwibawa dengan Tanjak “Lang Penawar Rindu” Karya Anak Pulau

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belakang Padang, Tedy Wibisono.

Belakang Padang | Di sebuah ruang kerja yang tenang di Belakang Padang, sebuah simbol budaya tersemat dengan penuh makna di kepala seorang pemimpin. Bukan sekadar kain yang dilipat rapi, melainkan sebuah nilai, rasa, dan identitas yang hidup tanjak kreasi “Lang Penawar Rindu”.

Karya ini lahir dari tangan kreatif Rangga Gagak, seorang warga pulau yang menjadikan budaya sebagai napas dan karya sebagai bahasa. Tanjak tersebut bukan hanya indah secara visual, tetapi juga sarat filosofi. Setiap lipatan, setiap sudut yang ditegakkan, membawa pesan tentang keteguhan hati, kerinduan akan akar budaya, dan kebanggaan sebagai bagian dari tanah Melayu yang kaya tradisi.

Nama “Lang Penawar Rindu” sendiri terasa puitis sekaligus dalam. “Lang” sebagai representasi langit luas, tinggi, dan penuh harapan. Sementara “Penawar Rindu” menjadi simbol pengobat rasa rindu terhadap jati diri, terhadap kampung halaman, terhadap nilai-nilai yang mungkin perlahan terkikis oleh arus modernitas. Tanjak ini seakan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini menghubungkan sejarah dengan masa depan.

Saat tanjak itu disematkan kepada Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belakang Padang, Tedy Wibisono, Senin (27/4) momen tersebut bukan hanya seremoni biasa. Ia menjadi peristiwa simbolik yang menggambarkan pertemuan antara budaya lokal dan institusi negara. Sebuah pesan kuat bahwa di tengah tugas menjaga pintu gerbang negara, nilai-nilai kearifan lokal tetap memiliki tempat terhormat.

Tedy Wibisono, dalam balutan seragam dinasnya, tampak semakin berwibawa dengan tanjak tersebut. Seolah-olah tanjak itu tidak hanya menghiasi kepala, tetapi juga mempertegas posisi bahwa seorang pemimpin bukan hanya berdiri atas jabatan, tetapi juga di atas pemahaman terhadap budaya tempat ia mengabdi. Tanjak itu menjadi mahkota kultural, mengingatkan bahwa kepemimpinan yang kuat adalah yang berakar.

Di balik itu semua, karya Rangga Gagak menjadi bukti bahwa Belakang Padang bukan sekadar wilayah geografis di pinggir Batam, tetapi ruang hidup yang melahirkan kreativitas dan identitas. Dari pulau kecil ini, lahir karya yang mampu berbicara di ruang formal pemerintahan, menyentuh dimensi estetika sekaligus filosofis.

Narasi tanjak “Lang Penawar Rindu” adalah narasi tentang pulang tentang bagaimana seseorang, di mana pun posisinya, tetap bisa kembali pada nilai-nilai asalnya. Ia adalah pengingat halus bahwa modernitas tidak harus menghapus tradisi, melainkan bisa berjalan berdampingan, saling menguatkan.

Dan di ruangan itu, di antara dinding kayu yang hangat dan simbol-simbol tugas negara, tanjak itu berdiri sebagai saksi: bahwa budaya tidak pernah benar-benar hilang, selama masih ada yang merawat, mencipta, dan dengan bangga mengenakannya.

 

Pewarta : M.Yusuf Suhaili

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *