STEM Festival SMAN 2 Batam Lahirkan ANDAMIKA, Inovasi Mitigasi Angin yang Diusulkan Jadi Inovasi Daerah Kepri

Batam | SMA Negeri 2 Batam membuktikan bahwa sekolah menengah atas tidak hanya menjadi tempat memperdalam teori akademik. Melalui gelaran STEM Festival, para siswa menampilkan berbagai karya rekayasa teknologi yang menunjukkan kemampuan praktik layaknya peserta didik di sekolah vokasi.

Puncak perhatian dalam festival tersebut tertuju pada ANDAMIKA (Anemometer dan Mitigasi Kecepatan Angin), sebuah alat yang dirancang untuk membantu memantau kecepatan angin sebagai upaya mitigasi di wilayah pesisir. Karya inovatif ini bahkan telah dipresentasikan di hadapan jajaran Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau dan diajukan sebagai calon inovasi daerah.

Kepala SMAN 2 Batam, Ade Karnesyah, M.Pd mengaku bangga atas capaian para siswa dan guru yang mampu menghasilkan teknologi tepat guna melalui pembelajaran berbasis STEM.

“Kami sangat bersyukur dan bangga melihat kreativitas anak-anak dan guru yang mampu melahirkan produk teknologi tepat guna melalui STEM Festival. Diajukannya ANDAMIKA sebagai calon inovasi daerah Provinsi Kepulauan Riau menjadi bukti bahwa siswa SMA tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Ade dalam keterangan tertulis, Selasa (30/6).

Keberhasilan tersebut lahir dari proses pembelajaran yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu. Selama sepuluh kali pertemuan, ruang kelas disulap menjadi laboratorium rekayasa tempat para siswa belajar secara langsung merancang, merakit, hingga memprogram perangkat elektronik.

Mereka mempelajari keterampilan yang lazim dijumpai di pendidikan vokasi, mulai dari membaca diagram rangkaian, merakit sensor, menghubungkan layar LCD, buzzer, hingga memprogram papan Arduino UNO agar seluruh sistem dapat bekerja secara terpadu.

Tak hanya itu, siswa juga dibekali kemampuan melakukan troubleshooting untuk menemukan dan memperbaiki kesalahan pada rangkaian maupun pemrograman dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI). Pendekatan tersebut membuat peserta didik tidak sekadar memahami konsep, tetapi juga mampu menyelesaikan persoalan teknis secara mandiri.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum sekaligus inisiator ANDAMIKA, Tri Yono, mengatakan pendekatan hands-on learning menjadi kunci dalam membangun kompetensi siswa.

“Kami menerapkan metode pembelajaran yang sangat lekat dengan dunia vokasi. Melalui proyek ini, siswa tidak hanya dipersiapkan menjadi pemikir, tetapi juga menjadi problem solver yang mampu menjawab berbagai persoalan nyata di lingkungan mereka,” katanya.

Semangat kolaborasi juga menjadi bagian penting dalam STEM Festival. Konsep link and match diwujudkan melalui keterlibatan berbagai instansi, di antaranya Kantor Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau Wilayah Batam, Kecamatan Belakang Padang, PLN Belakang Padang, Polsek Belakang Padang, Koramil Belakang Padang, Kantor Imigrasi Belakang Padang, UPT BLUD Air Belakang Padang, serta sejumlah instansi dan satuan pendidikan lainnya di wilayah Belakang Padang.

Setelah melalui uji coba di kawasan perairan Batam dan menjadi salah satu karya unggulan dalam STEM Festival, ANDAMIKA kemudian dipaparkan di hadapan Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau. Langkah tersebut ditempuh sebagai bagian dari upaya agar alat ini dapat diadopsi secara lebih luas dan ditetapkan sebagai salah satu inovasi daerah yang memberi manfaat bagi keselamatan masyarakat pesisir.

Melalui STEM Festival dan lahirnya ANDAMIKA, SMAN 2 Batam menunjukkan bahwa pendidikan umum mampu melahirkan inovasi yang tidak kalah dengan pendidikan vokasi. Pembelajaran berbasis STEM membuka ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas, keterampilan teknis, kemampuan berpikir kritis, serta menghadirkan solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat di era teknologi modern.

Pewarta : M. Yusuf Suhaili
Editor : Zaki
Sumber : Humas SMA Negeri 2 Batam

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *