Batam | Kepedulian terhadap perubahan iklim mendorong empat siswa SMAN 2 Batam untuk menghadirkan inovasi teknologi tepat guna melalui prototipe bernama Airobot. Karya tersebut mereka bawa dalam ajang Lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro (HMTE) Politeknik Negeri Batam (Polibatam).

Dalam kompetisi tersebut, para siswa mempresentasikan Airobot di hadapan dewan juri dan akademisi. Prototipe ini dirancang untuk melakukan pemantauan kondisi lingkungan, khususnya perubahan ketinggian air dan kecepatan angin secara real-time.
Gagasan pembuatan Airobot berangkat dari kepedulian para siswa terhadap kondisi geografis Kepulauan Riau yang merupakan wilayah kepulauan dan dikelilingi laut. Kondisi tersebut membuat sejumlah kawasan, khususnya wilayah pesisir, memiliki potensi menghadapi banjir rob serta kondisi cuaca dengan angin kencang.
Persoalan tersebut kemudian mendorong para siswa untuk menerapkan pemahaman mengenai literasi perubahan iklim ke dalam sebuah inovasi teknologi yang diharapkan dapat memberikan informasi awal terhadap perubahan kondisi lingkungan.
Airobot dikembangkan oleh empat siswa SMAN 2 Batam dari tingkat kelas yang berbeda. Mereka adalah Reza Yolanda Putra dari kelas XII.1 selaku ketua kelompok, serta Nayla Ummayah kelas XI.1, Melly kelas XI.3 dan Christopher kelas XI.3 sebagai anggota.
Dengan pendampingan pihak sekolah, keempat siswa tersebut mengembangkan prototipe di luar jam pembelajaran. Mereka mulai dari merangkai komponen mikrokontroler, memasang sensor, melakukan pengujian hingga mempersiapkan materi presentasi untuk mengikuti kompetisi.
Dalam pengembangannya, Airobot memiliki sejumlah fungsi utama. Sensor ketinggian air digunakan untuk mendeteksi perubahan permukaan air pada lokasi yang dipantau. Data tersebut dapat menjadi indikator awal ketika terjadi kenaikan permukaan air yang berpotensi menimbulkan genangan.
Sementara itu, sensor anemometer digunakan untuk mengukur kecepatan angin. Informasi tersebut menjadi bagian dari sistem pemantauan kondisi lingkungan yang dikembangkan para siswa.
Airobot juga dilengkapi sistem indikator atau notifikasi yang dirancang untuk memberikan peringatan ketika parameter tertentu mengalami perubahan. Dengan konsep tersebut, informasi yang diperoleh dari sensor dapat lebih mudah dipantau sebagai bagian dari upaya mitigasi dini.
Meski belum berhasil meraih predikat juara dalam ajang TTG Polibatam, keikutsertaan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi keempat siswa. Mereka tidak hanya mendapatkan kesempatan memperkenalkan karya, tetapi juga memperoleh masukan teknis dari dewan juri dan akademisi.
Guru pendamping SMAN 2 Batam, Restilawati, S.Pd., menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya terhadap proses yang telah dilalui para siswa.
Menurutnya, keberhasilan bukan hanya diukur dari perolehan trofi. Keberanian siswa merancang inovasi dari awal, mempelajari persoalan perubahan iklim, hingga mempresentasikan dan mempertahankan gagasan di hadapan juri merupakan pencapaian yang patut diapresiasi.
“Meskipun belum menyabet gelar juara, bagi kami Reza, Nayla, Melly, dan Christopher sudah menjadi pemenang sesungguhnya. Proses merancang Airobot dari nol, memahami isu iklim, hingga berani mempertahankan karya di depan juri akademisi Polibatam adalah pencapaian yang sangat membanggakan,” ujar Restilawati.
Hal senada disampaikan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum sekaligus pembimbing lapangan, Tri Yono. Ia menilai keikutsertaan dalam ajang TTG Polibatam memberikan pengalaman sekaligus evaluasi penting bagi pengembangan riset siswa di sekolah.
Menurut Tri Yono, berbagai masukan yang diperoleh dari dewan juri akan menjadi bahan untuk menyempurnakan Airobot, terutama dalam meningkatkan akurasi sensor dan ketahanan prototipe ketika nantinya dikembangkan lebih lanjut.
“Inovasi Airobot membuktikan bahwa literasi perubahan iklim di SMAN 2 Batam tidak berhenti sebagai selembar teori di dalam kelas, melainkan terwujud dalam aksi nyata berbentuk rekayasa teknologi,” tegas Tri Yono.
Ia menambahkan, sekolah akan terus memberikan dukungan terhadap berbagai riset dan inovasi yang dikembangkan siswa agar dapat semakin matang serta memiliki manfaat yang lebih luas.
Bagi keluarga besar SMAN 2 Batam, belum diraihnya gelar juara bukan menjadi akhir dari perjalanan Airobot. Pengalaman mengikuti kompetisi di lingkungan perguruan tinggi justru menjadi pijakan untuk melakukan evaluasi dan pengembangan berikutnya.
Melalui Airobot, para siswa menunjukkan bahwa literasi perubahan iklim dapat diterjemahkan menjadi sebuah gagasan teknologi. Inovasi tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa generasi muda Batam memiliki kepedulian terhadap persoalan lingkungan dan keberanian untuk mencoba menghadirkan solusi melalui teknologi.
Reporter : M. Yusuf Suhaili Editor : Zaki Sumber : Humas SMAN 2 Batam





