Tanjung Pinang | Sebuah jejak sejarah dari abad ke-19 kembali mendapat sorotan. Tangga klasik yang akrab disebut Tangga Batu di kawasan Kota Lama Tanjungpinang, kini resmi ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Tanjungpinang.
Penetapan ini bukan sekadar status hukum, melainkan bentuk penghormatan terhadap warisan arsitektur dan memori kolektif warga yang sudah terjaga lebih dari seabad.
Tangga legendaris tersebut memiliki banyak sebutan: Tangga Apollo, Tangga 30, hingga Tangga Bertingkat. Sejak era kolonial Belanda, tangga ini bukan hanya jalur penghubung, tetapi juga menjadi elemen artistik kota dan ruang sosial masyarakat.
Material batu yang digunakan berasal dari pabrik batu alam Senggarang, sama dengan material yang dipakai membangun Masjid Sultan Riau Penyengat sebuah bukti keterhubungan sejarah arsitektur di Tanjungpinang.
Kini, Tangga Batu dipandang lebih dari sekadar susunan anak tangga. Ia adalah simbol perjalanan dan kenangan lintas generasi, yang menghubungkan Jalan Diponegoro, Jalan Sunaryo, Jalan Teuku Umar, hingga Jalan Kemboja.
Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Tanjungpinang, Zulhidayat, menyebutkan bahwa ada lima objek yang ditetapkan sebagai cagar budaya pada awal 2025, salah satunya Tangga Batu.
“Objek cagar budaya akan mendapatkan perawatan dan upaya pelestarian yang lebih baik, sehingga nilai sejarahnya tetap terjaga bagi generasi mendatang,” ujarnya dikutip pada Jum’at (22/8/2025)
Lebih jauh, ia menegaskan penetapan ini tidak hanya menjaga warisan sejarah, tetapi juga memperkuat identitas budaya Tanjungpinang sekaligus menghadirkan daya tarik wisata baru.
Bagi warga, Tangga Batu bukanlah sekadar tangga. Generasi 80-an dan 90-an mengenangnya sebagai tempat bermain, bersantai, hingga titik kumpul bersama teman. Pedagang kaki lima pun dahulu menjajakan camilan termasuk es campur “Apollo” yang legendaris, hingga tangga ini kemudian dikenal sebagai Tangga Apollo.
Meski popularitasnya sempat meredup seiring pembangunan jalan raya, penetapan sebagai cagar budaya membuat Tangga Batu kembali bersinar.
Harapannya, ikon Kota Lama Tanjungpinang ini terus hidup dalam ingatan masyarakat, sekaligus diwariskan kepada generasi mendatang sebagai penanda sejarah dan kebanggaan kota.





