Warga Belakang Padang Terdampak Blackout, Lilin Langka, Air Galon Ludes Diburu

Belakang Padang | Pemadaman listrik berkepanjangan di Kota Batam sejak Senin (12/10/2026) membuat warga Kecamatan Belakang Padang ikut kelimpungan. Tak hanya rumah gelap, warga juga kesulitan mendapatkan lilin untuk penerangan darurat dan air galon untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di sejumlah warung, lilin yang biasanya mudah ditemukan mulai langka. Permintaan yang meningkat membuat persediaan cepat habis, sementara harga jualnya dikeluhkan mengalami kenaikan.

Bacaan Lainnya

Aswar, warga Kampung Jawa, mengaku membeli lilin dengan harga Rp3.000 per batang hingga Rp5.000 per dua batang. Bahkan, satu kotak berisi delapan batang lilin dijual hingga Rp26.000.

“Biasanya Rp2.000, sekarang jadi Rp3.000 dan sampai Rp5.000 per dua batang. Makanya tadi beli sebelum malam,” ujar Aswar.

Menurutnya, lilin semakin sulit ditemukan ketika malam semakin larut. Sejumlah warung yang sebelumnya menjual kebutuhan tersebut dilaporkan telah kehabisan stok.

Kondisi ini diperparah oleh beredarnya kabar di tengah masyarakat bahwa pemadaman listrik diperkirakan berlangsung lama, bahkan disebut-sebut hingga tiga hari. Meski belum dipastikan kebenarannya, informasi tersebut membuat sebagian warga memilih membeli lilin lebih awal untuk mengantisipasi malam tanpa penerangan.

“Yang membuat kami khawatir itu kabar listrik bisa mati sampai tiga hari. Kami tidak tahu informasi itu benar atau tidak, makanya orang-orang mulai membeli lilin untuk persediaan,” ujar seorang warga.

Air Galon Ikut Diburu

Persoalan warga Belakang Padang tidak berhenti pada kelangkaan lilin. Gangguan pasokan air yang dirasakan warga turut membuat air minum dalam kemasan galon semakin diburu.

Sejumlah warung yang biasa menjual air galon dilaporkan kehabisan stok akibat meningkatnya permintaan.

“Dari tadi banyak yang beli,” ujar salah seorang pedagang air galon.

Warga terpaksa mencari penjual lain ketika persediaan di warung terdekat habis. Bagi rumah tangga, ketersediaan air menjadi persoalan penting karena dibutuhkan bukan hanya untuk minum, tetapi juga untuk memasak dan berbagai keperluan sehari-hari.

“Di rumah sudah gelap, air juga tidak mengalir. Anak-anak susah kalau harus bertahan dalam kondisi seperti ini,” kata Feni.

Situasi tersebut semakin menyulitkan keluarga yang memiliki anak kecil maupun anggota keluarga lanjut usia. Tanpa penerangan dan pasokan air yang memadai, aktivitas rumah tangga menjadi terganggu.

Ponsel Kehabisan Baterai, Jaringan Ikut Dikeluhkan

Di tengah pemadaman, warga juga menghadapi kendala komunikasi. Baterai ponsel mulai menipis karena tidak bisa diisi ulang, sementara jaringan seluler di sejumlah lokasi dilaporkan hilang atau terganggu.

“Ponsel sudah hampir habis baterainya, mau mengisi daya juga sulit. Jaringan ikut hilang, jadi kami kesulitan mencari informasi tentang kapan listrik kembali menyala,” keluh seorang warga.

Kondisi tersebut membuat warga kesulitan berkomunikasi dan memperoleh informasi terbaru mengenai pemulihan pasokan listrik. Beredarnya kabar mengenai kemungkinan lamanya pemadaman pun menambah kekhawatiran masyarakat.

Bagi warga Belakang Padang, pemadaman listrik bukan sekadar persoalan lampu yang tidak menyala. Gangguan tersebut turut memengaruhi ketersediaan air, kebutuhan penerangan, komunikasi, hingga kenyamanan keluarga di rumah.

Warga kini berharap pasokan listrik segera pulih agar aktivitas sehari-hari kembali normal dan kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi.

Sementara itu, informasi mengenai perkiraan pemadaman hingga tiga hari masih sebatas kabar yang beredar di masyarakat dan belum dapat dipastikan berdasarkan keterangan resmi.

 

Reporter : Lia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *